Kamis, 24 November 2016

UNY CUP

INVITASI NASIONAL UNY CUP


Dalam rangka menjalin persahabatan dan meraih prestasi di bidang olahraga pada kalangan mahasiswa, UNY menyelenggarakan invitasi olahraga nasional antar perguruan tinggi UNY Cup tahun 2016 yang dibuka di Tennis Indoor Barat FIK UNY (11/11). Kegiatan yang akan berlangsung hingga Minggu 13 November 2016 tersebut mempertandingkan 4 cabang olahraga yaitu tenis lapangan, tenis meja, sepak takraw dan bola voli. Sebelumnya telah bertanding cabang olahraga tennis lapangan sejak (7/11), dan cabang olahraga sepak takraw sejak (10/11).Menurut ketua panitia Aris Fajar Pambudi, M.Or cabang yang dipertandingkan adalah bola voli beregu putra dan beregu putri, sepak takraw regu putra, regu putri dan double event putra. Tenis meja mempertandingkan tunggal putra, tunggal putri dan beregu campuran. Sedangkan tenis lapangan mempertandingkan ganda putra, ganda putri serta ganda campuran.Invitasi olahraga ini dibuka oleh Wakil Rektor I UNY Wardan Suyanto, MA., Ed.D dengan pemukulan bola tennis lapangan. Dalam sambutannya Wardan Suyanto, MA., Ed.D mengatakan bahwa kegiatan ini sangat baik untuk silaturahmi dan saling mengenal antar mahasiswa perguruan tinggi agar ke depannya bisa membuat jaringan. “Olahraga tidak untuk menimbulkan perpecahan melainkan untuk meningkatkan persahabatan, disiplin dan sportifitas” katanya. Sehingga kedepan diharapkan bisa meningkatkan prestasi bidang olahraga sehingga tercipta bibit-bibit olahragawan nasional. Selain itu dengan berolahraga juga meningkatkan kebugaran dan kesehatan.UNY Cup diikuti oleh 27 perguruan tinggi dari seluruh nusantara termasuk UNY sebagai tuan rumah. Cabang olahraga bola voli diikuti oleh 13 perguruan tinggi, tenis meja 7 perguruan tinggi, tenis lapangan 11 perguruan tinggi dan sepak takraw 6 perguruan tinggi. Untuk pertandingan bola voli dilaksanakan di GOR UNY, tenis meja di hall tenis meja UNY, tenis lapangan di tennis indoor barat serta sepak takraw di tennis indoor timur UNY. (dedy)

Submitted by humas on Fri, 2016-11-11 13:28


Sumber:https://uny.ac.id/berita/invitasi-olahraga-nasional-antar-perguruan-tinggi.html

INVITASI NASIONAL UNY CUP


Dalam rangka menjalin persahabatan dan meraih prestasi di bidang olahraga pada kalangan mahasiswa, UNY menyelenggarakan invitasi olahraga nasional antar perguruan tinggi UNY Cup tahun 2016 yang dibuka di Tennis Indoor Barat FIK UNY (11/11). Kegiatan yang akan berlangsung hingga Minggu 13 November 2016 tersebut mempertandingkan 4 cabang olahraga yaitu tenis lapangan, tenis meja, sepak takraw dan bola voli. Sebelumnya telah bertanding cabang olahraga tennis lapangan sejak (7/11), dan cabang olahraga sepak takraw sejak (10/11).Menurut ketua panitia Aris Fajar Pambudi, M.Or cabang yang dipertandingkan adalah bola voli beregu putra dan beregu putri, sepak takraw regu putra, regu putri dan double event putra. Tenis meja mempertandingkan tunggal putra, tunggal putri dan beregu campuran. Sedangkan tenis lapangan mempertandingkan ganda putra, ganda putri serta ganda campuran.Invitasi olahraga ini dibuka oleh Wakil Rektor I UNY Wardan Suyanto, MA., Ed.D dengan pemukulan bola tennis lapangan. Dalam sambutannya Wardan Suyanto, MA., Ed.D mengatakan bahwa kegiatan ini sangat baik untuk silaturahmi dan saling mengenal antar mahasiswa perguruan tinggi agar ke depannya bisa membuat jaringan. “Olahraga tidak untuk menimbulkan perpecahan melainkan untuk meningkatkan persahabatan, disiplin dan sportifitas” katanya. Sehingga kedepan diharapkan bisa meningkatkan prestasi bidang olahraga sehingga tercipta bibit-bibit olahragawan nasional. Selain itu dengan berolahraga juga meningkatkan kebugaran dan kesehatan.UNY Cup diikuti oleh 27 perguruan tinggi dari seluruh nusantara termasuk UNY sebagai tuan rumah. Cabang olahraga bola voli diikuti oleh 13 perguruan tinggi, tenis meja 7 perguruan tinggi, tenis lapangan 11 perguruan tinggi dan sepak takraw 6 perguruan tinggi. Untuk pertandingan bola voli dilaksanakan di GOR UNY, tenis meja di hall tenis meja UNY, tenis lapangan di tennis indoor barat serta sepak takraw di tennis indoor timur UNY. (dedy)

Submitted by humas on Fri, 2016-11-11 13:28


Sumber:https://uny.ac.id/berita/invitasi-olahraga-nasional-antar-perguruan-tinggi.html

Sabtu, 24 September 2016

makalah sepak takraw

TUGAS MATA KULIAH SEPAK TAKRAW
TEKNIK DASAR DAN ATURAN BERMAIN SEPAK TAKRAW


 


DISUSUN OLEH :
NUR CAHYONO  ( 14230094)





PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI
FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DAN KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS PGRI SEMARANG
2016/2017

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Sejarah 
Olahraga sepak takraw adalah transformasi dari permainan yang dalam bahasa Melayu disebut Sepak Raga (raga = keranjang), disebut Takraw dalam bahasa Thai, di Filipina disebut Sipa, di Burma disebut Chinlone, di Laos disebut Kator. Catatan sejarah terawal tentang sepak raga terdapat dalam sejarah Melayu. Ketika pemerintahan Sultan Mansur Shah Ibni Almarhum Sultan Muzzaffar Shah (1459 - 1477). 
Pada permainan Sepak Raga para pemain berdiri membentuk lingkaran dan menggunakan bola yang terbuat dari rotan. Transformasi permainan ini terjaidi pada era 1940-an ketika permainan bola keranjang ini mulai menggunakan jaring dan peraturan angka, serta para pemain tidak lagi berdiri membentuk lingkaran tetapi dimainkan di lapangan ganda badminton.
 Dan pada masa sekarang bola yang digunakan tidak lagi yang terbuat dari rotan tetapi yang terbuat dari fiber. Kejuaraan paling bergengsi dalam cabang ini adalah King's Cup World Championships, yang diadakan di Bangkok, Thailand. (23rd King's Cup SepakTakraw World Championship 2008: August 25-30th).


2. Identifikasi Masalah
Dalam makalah ini penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
1. Perkembangan Sepak Takraw
2. Teknik Dasar
3. Permainan
4. Peraturan

3. Batasan Masalah 
Agar masalah pembahasan tidak terlalu luas dan lebih terfokus pada masalah dan tujuan dalam hal ini pembuatan makalah ini, maka dengan ini penyusun membatasi masalah hanya pada ruang lingkup Sepak takraw
BAB II
ISI

A. Perkembangan Sepak Takraw di Indonesia
Menurut sejarah perkembangannya, Sepak Takraw berasal dari olahraga tradisional Indonesia, yaitu : Sepak Raga. Daerah – daerah di Indonesia yang semula mengembangkan permainan ini adalah : Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Sulawesi Selatan. Semula permainan sepak raga dimainkan oleh sekelompok bangsawan di daerah – daerah tersebut, kemudian berkembang menjadi permainan rakyat. Sepak raga dimainkan oleh enam sampai Sembilan orang secsara melingkar di suatau tempat terbuka, sebagai hiburan dan pengisi waktu luang dikala orang menunggu waktu senja.

B. Perkembangan Sepak Takraw Internasional (Dunia)
Pada tahun 1965 Sepak Takraw merupakan satu cabang olahraga yang dipertandingkan Pesta Olahraga South Asia Peninsulars Games ( SEAP GAMES )
yang diselenggarakan setiap 2 tahun sekali yang diikuti oleh Laos, Thailand, Singapura dan Malaysia. Pada tahun 1977 jumlah Negara yang mengikuti SEAP Games diperluas dengan Negara Asia lainnya, yaitu, Indonesia, Brunei dan Philifina; dan nama SEAP Games diubah menjadi South Asian Games ( SEA GAMES).
Pada tingkat internasional Sepak Takraw dipertandingkan pada kejuaraan : SEA Games, ASIAN Games, World Sepak Takraw Championship, World Woman Sepak Takraw Championship, World Youth Sepak Takraw Championship, King`s Cup Thailand, Merdeka Games, Arafura Games, Anniversary Cup dan POM asia tenggara. 

C. Teknik Dasar
a. Sepak Sila 
1.     Berdiri pada kedua kaki menghadap kea rah datangnya bola.
2.     Berdiri pada satu kaki,pada kaki kiri atau kanan.
3.     Bila berdiri pada kaki kiri,maka kaki kanan di tarik ke atas dan telapak kakinya menghadap lutut kaki kiri kemudian di turunkan setinggi maya kaki,kaki kiri di tarik lagi ke atas sampai setinggi lutut berulang-ulang.
4.     Pemain berdiri pada 2 kaki, kaki kiri di depan kaki kanan, berat badan bertumpu pada kaki kiri, menghadap pelambung bola.
Teknik Dasar Sepak Sila :
1.     Pemain berdiri pada kaki kiri dan kaki kanan,memantul-mantulkan bola dengan kaki kanan. Bola menyentuh bagian bawah mata kaki kanan. Pandangan di fokuskan kepada bola.
2.     Pantulan bola di pertinggi dengan cara sepakan di perkuat.
3.     Bila gerak kaki kiri yang di gunakan untuk menpakan tubuh tetap berdiri relative diam di tempat maka ini menunjukan bahwa anda sudah mahir melakukan sepak sila.
4.     Sebaiknya bila kaki kiri itu bergeser ke kiri ke kanan dan ke belakang sehngga bergerak dalam lingkaran yang gairs tengahnya lebih dari 1m,ini menunjukkan bahwa sepak sila anda belum stabil atau mantap.
5.  Bola lambung di ikuti dengan pandangan mata, sehingga pemain mengetahui arah bola dan mem-prediksi kecepatan bola dan tempat jatuhnya bola.
6.    Kedatangan bola di sambut oleh kaki dengan posisi kaki sepak sila.bola menyentuh kaki di bawah mata kaki,kaki kanan.bola di arahkan kembali kepada pelambung.
 


Fungsi Sepak Sila:
1.     Sebagai sepakan sajian awal (servis) atau sepak mula.
2.     Untuk menerima smes dan langsung di lambungkan dan di arhkan kepada apit kiri atau apit kanan.
3.     Untuk menyuguhkan umpan kepada smesser.

b. Sepak Kuda
Sikap dasar dan gerakan sepak sila:
1.     Pemain berdiri pada kedua kaki menghadap datangnya bola.
2.     Kedatangan bola di sambut oleh ayunan kaki kanan dan bola memantul setelah menyentuh arah punggung kaki kanan tersebut.Pandangan mata di fokuskan pada bola.
3.     Gerakan tersebut di lakukan dengan konsentrasi pikiran di tujukkan kepada kawan regunya atau kea rah daerah lawan melalui atas net (jaring).
4.     Fungsi sepak kuda adalah sebagai sepakan smes yaitu dengan cara melakukan gulingan badan (seperti salto)dan sentakkan kaki pada waktu melakukan sepakkan.
 

c. Heading ( Sundulan Kepala )
Sikap dasar dan pelaksanaan heading :
1.     Berdiri pada kedua kaki menghadap kedatangan bola.
2.     Heading bisa di lakukan dengan dahi samping kanan/kiri kepala,dan belakang kepala.
3.     Bola datang setinggi kepala, maka kepala menyambutnya dengan suatu gerakan kaki atau dan kepala guna membantu tenaga pantulan atau arah yang di perlukan.
4.     Bola berkecepatan tinggi cukup di sambut dengan kepala dan mengarahkannya.
5.     Benturan bola pada kepala cukup keras,sehingga si pemain harus memperhitungkan akan ‘risiko’ yang akan di rasakannya.
6.     Fungsi heading ini sebagai alat pembendung (blocking) atau smes juga di gunakan sebagai umpan.
 
d. Sepak Cungkil
Sepak cungkil adalah menyepak bola dengan menggunakan kaki (jari kaki). Digunakan untuk mengambil bola yang jauh, rendah dan bola-bola yang liar pantulan dari bloking.


e. Menapak
Menapak adalah menyepak bola dengan menggunakan telapak kaki. Digunakan untuk : smash ke pihak lawan, menahan atau membloking smash dari pihak lawan dan menyelamatkan bola dekat net (jaring).

f. Sepak Simpuh atau Sepak Badek
Sepak badek adalah menyepak bola dengan kaki bagian luar atau samping luar. Digunakan untuk menyelamatkan bola dari pihak lawan dan mengontrol bola dalam usaha penyelamatan.
g. Mendada
Mendada adalah memainkan bola dengan dada, digunakan untuk mengontrol bola untuk dapat dimainkan selanjutnya.
h. Memaha
Memaha adalah memainkan bola dengan paha dalam usaha mengontrol bola, digunakan untuk menahan, menerima dan menyelamatkan bola dari serangan lawan.

i. Membahu
Membahu adalah memainkan bola dengan bahu dalam usaha mempertahankan dari serangan pihak lawan yang mendadak, dimana pihak pertahanan dalam keadaan terdesak dan dalam posisi yang kurang baik.
j. Smash
teknik smash sepak takraw ada 2 jenis, yaitu:
Ø Roll Spike adalah trik / teknik smash yang berasal dari olahraga Sepak Takraw Untuk mencapai prestasi ini dan tetap tidak terluka , hanya profesional terlatih atau trainee diawasi harus mencobanya . Jika Anda ingin belajar dengan aman silahkan hubungi kami untuk menemukan sesi Takraw terdekat . Hanya kelas atas Takraw atlet harus berusaha manuver spektakuler ini .
Ø Smash kedeng
Fungsi smes kedeng adalah sebagai alat serangan untuk bola di daerah lawan.
k. Sepak mula (Servis
Sepak Mula (Servis) adalah sepakan yang dilakukan oleh tekong kearah lapangan lawan sebagai cara memulai permainan. suatu gerak kerja yang penting dalam permainan sepak takraw, karena point dapat dibuat oleh regu yang melakukan servis. Tujuan suatu servis hendaklah dipusatkan kepada pengacuan permainan atau pertahanan lawan sehingga kita dapat mengatur smash yang mematikan dan sulit menerima bola oleh lawan.
 

l. Blocking
Fungsi blocking adalah sebagai alat pertahanan untuk menggagalkan serangan lawan
D. Bentuk permainan
Dalam Permainan sepaktakraw, dimainkan oleh dua regu yang berhadapan dan dipisahkan oleh jaring (net) pada bagian tengah lapangan yang berbentuk persegi empat panjang dan rata seperti dalam permainan badminton. Tangan adalah bagian tubuh yang tidak boleh tersentuh bola, dan bagian tubuh yang terutama digunakan untuk menyentuh bola adalah kaki dan kepala.
Tujuan dari setiap regu adalah mengembalikan bola sedemikian rupa sehingga dapat jatuh di lapangan lawan atau menyebabkan lawan membuat pelanggaran. Tekong yang melakukan sepakan permulaan (service) dan mengawal bahagian belakang gelanggang. Apit Kiri dan Apit Kanan mengawal bahagian depan gelanggang dan memikul tugas utama mematikan bola di gelanggang lawan. Tiap regu akan bertukar tempat setiap berakhir set. Bentuk permainan      Sepak takraw tidak jauh berbeda dengan permainan bola volley, dengan perbedaan :
Ø Pemain tidak boleh menyentuh bola dengan tangan
Ø Pemain atau tim hanya boleh menyentuh bola tiga kali berturut – turut
Ø  Posisi pemain bertahan, tidak diputar 
E. PEMAIN
Ø Dimainkan oleh dua regu yang masing-masing pihak terdiri dari 3 (tiga) orang
Ø  Satu orang dari tiga pemain ini berdiri di belakang yang dinamakan "TEKONG";
Ø  Dua orang pemain depan, dikiri dinamakan Apit Kiri yang dikanan Apit Kanan;
Ø Istirahat bisa diberikan selama 5 menit sebelum games (set) terakhir dimulai

F. Lapangan
Ø Panjang Lapangan: 13,42 meter.
Ø Lebar Lapangan : 6,10 meter.
Ø Garis Batas: adalah garis (lines) yang lebarnya+ 5 cm.
Ø  Lingkaran Tengah: Ditengah sebuah lapangan ada lingkaran yaitu tempat melakukan sepakan permulaan (service). dengan garis tengah lingkaran 61 cm.
Ø Garis seperempat lingkaran: Pada penjuru tengah kedua lapangan terdapat garis seperempat lingkaran tempat melambungkan bola kepada pemain yang melakukan sepakan permulaan (service) dengan jari-jari 90 cm.
Tiang: Dua buah tiang sebagai tempat pengikat jaring, didirikan pada sebelah luar kedua garis samping kiri dan kanan dengan jarak 30,5 cm dari garis samping. 
Ø  Tinggi tiang 1,55 meter untuk laki-laki dan 1.45 meter untuk perempuan.
Jaring (net):
Ø Jaring dibuat dari bahan benang kasar, tali, atau dari nylon dengan ukuran lubang-lubangnya 4-5 cm. Lebar jaring 72 cm dan panjangnya tidak lebih dari 6,71 m. Pada pinggir atas, bawah dan samping dibuat pita selebar + 5 cm yang diperkuat dengan tali yang diikatkan pada kedua ring. Tinggi jarring 1,55 dari tanah atau lantai.
Ø BolaTakraw
Terbuat dari plastik dimana awalnya adalah terbuat dari rotan, dengan ukuran :
 Lingkaran 42-44 cm untuk putra dan 43-45 cm untuk putri.
Berat adalah 170-180 gr untuk putra dan 150-160 untuk putri.
                                                                      
G. Angka ( point )
Angka kemenangan untuk satu set adalah 21 point. Jika kedua regu mendapat 20 angka sama, wasit meneruskan pertandingan setelah berunding dengan regu yang menerima service untuk ditambah 5 angka. Jika kedua regu sama-sama memenangi satu game maka diteruskan dengan game terakhir (rubber set). Pemenang games (set) ke-3 adalah pemenang pertandingan itu. Angka kemenangan untuk set ke-3 adalah 15 point.

H. Permulaan Permainan 
Sebelum permainan dimulai, wasit melakukan undian (Toss) dengan mempergunakan uang logam (toss of coin) untuk memilih bola atau tempat.
Permainan dipimpin oleh seorang wasit dan seorang pembantu wasit (wasit II) dengan dibantu oleh 6 orang penjaga garis (lines man) yang duduk di 4 penjuru lapangan. Regu yang memilih bola yang pertama memulai permainan (set) pertama, selanjutnya pemenang game (set) pertama memulai permainan set kedua.


I. Sepakan Permulaan
Ø Tekong (Server) itu hendaklah sebelah kakinya berada dalam  lingkaran.



Ø Apit Pelambung bola haruslah berdiri dalam lingkaran (dibagian tengah lapangan).



Ø Apit yang seorang lagi haruslah berada di dalam lingkaran penjuru lainnya.
Ø Regu yang menerima service boleh berdiri di mana saja di dalam lapangannya.
Ø Service dianggap sah walaupun bola menyentuh jaring.

J. Kesalahan atau Pelanggaran
      1. Bagi regu yang melakukan servis:
Ø Apit sebagai pelambung masih memainkan bola, (melempar bola kepada teman sendiri, memantulkan, melempar dan menangkap lagi) setelah wasit menyebut posisi angka/skor.
Ø  Apit mengangkat kaki, menginjak garis, menyentuh atau melewati bawah net ketika melakukan lambung bola.
Ø   Tekong saat melakukan sepak mula  bersamaan sambil melompat.
Ø Tekong tidak menyepak bola yang dilambungkan kepadanya.
2. Kesalahan atau pelanggaran bagi regu yang menerima servis ialah berusaha mengalihkan perhatian lawan atau mengganggu pihak lawan yang sedang berkonsentrasi.
3. Kesalahan atau Pelanggaran pada kedua pihak:
Ø Ada pemain mengambil bola di lapangan lawan.
Ø Mempermainkan bola lebih dari tiga kali.
Ø   Bola mengenai tangan.
Ø Menahan/menjepit bola diantara lengan dan badan dua, dan diantara kaki dan badan.

K. Time Out
            Setiap angka 11 maka kedua regu diperkenankan untuk melakukan time out selama satu menit, dan yang diijinkan hanya lima orang saja di garis belakang.

L. Peraturan Pertandingan Sepak Takraw
            Peraturan pertandingan adalah memuat tentang pelaksanaan pertandingan sepak takraw oleh panitia pertandingan. Peraturan – peraturan pertandingan tersebut ialah sebagai berikut:
Ø Waktu dan Tempat
Ø Nomor yang dipertandingkan
Ø Peserta
Ø Sistem Pertandingan
Ø Pemeriksaan Medis
Ø Perlengkapan
Ø Wasit
Ø Urutan Pemenang
Ø Lain – lain
Ø Peraturan Pertandingan
Ø Pendaftaran
Ø Penggantian Pemain
Ø Hukuman
Ø Susunan Komisi Tata Tertib
Ø Tugas – tugas Komisi Tata Tertib
Ø Wewenang Komisi Tata Tertib
Ø Protes
Ø Technical Meeting
Ø Ketentuan sebelum, selama, dan sesudah pertandingan
Ø  Acara Pertandingan
Ø Acara pertandingan tim
Ø Acara pertandingan regu






BAB III
PENUTUP
Sepak Takraw adalah kata Malaysia untuk menendang. Takraw adalah kata Thai untuk bola tenunan tangan awalnya digunakan dalam permainanJadi permainan adalah menendang bola dasarnya. " Regu adalah Malaysia untuk "tim" empat orang, tiga starter dan satu pemain pengganti. 
Olah raga ini menjadi Takraw resmi dikenal sebagai . Takraw adalah kata Malaysia untuk kick dan Takraw adalah kata Thai untuk bola tenunan, karena itu Takraw  secara harfiah berarti untuk menendang bola. Pemilihan nama ini untuk olahraga pada dasarnya merupakan kompromi antara Malaysia dan Thailand,dua negara raksasa olahraga.











Kamis, 28 Juli 2016

contoh proposal sekripsi penjas



ANALISIS STRATEGI POTENSI PEMBINAAN OLAHRAGA PRESTASI  KABUPATEN BANJARNEGARA DALAM PERSIAPAN PEKAN OLAHRAGA PROVINSI  
TAHUN 2017

BAB I
PENDAHULUAN

1.         Latar Belakang
Sebagaimana diamanahkan dalam Undang-Undang No.25 Thn 2000 (selanjutnya disingkat UU No.25/2000) tentang program pembangunan nasional (PROPENAS) tahun 2000 sampai 2004 khususnya dalam bidang olahraga adalah :
Program pengembangan dan keserasian kebijakan olahraga

1.      Program pengembangan dan keserasian kebijakan olahraga
2.      Program pemasyarakatan olahraga
3.      Program pemanduan bakat dan bibit olahraga
4.      Program peningkatan prestasi olahraga
   
Ditambah Undang-Undang Republik Indonesia nomor 3 tahun 2005 tentang system keolahragaan nasional. Kemudian berjalannya otonomi daerah yang memberikan motivasi kepada kita semua dalam rangka pengembangan suatu wilayah dalam sauna yang kondusif dan dalam wawasan yang demokratis dilanjutkan lagi dengan adanya kebijakan bupati Kabupaten Banjarnegara yang berfokus pada peningkatan sumber daya manusia masyarakat Kabupaten Banjarnegara khususnya pada bidang pendidikan jasmani dan olahraga di sekolah-sekolah dan masyarakat sebagai subsistim pendidikan secara menyeluruh yang nantinya dapat meningkatkan kualitas fisik, karakter, etika, disiplin, dan kepribadian masyarakat Banjarnegara.

            Tolak ukur keberhasilan pembinaan prestasi olahraga yang dicapai oleh Kabupaten Banjarnegara pada pekan olahraga Provinsi (PORPROV) dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. walaupun pada pekan olahraga provinsi tahun 2013 yang diselenggarakan di Banyumas sedikit mengalami peningkatan peringkat yaitu dari peringkat ke XII pada tahun 2009 dan  peringkat ke IX pada tahun 2013, namun perolehan medali tersebut tidak signifikan. Pada pekan olahraga provinsi tahun 2013 kabupaten Banjarnegara meduduki peringkat ke IX dengan medali emas 20. Pada medali  perak 15, sedangkan medali perunggu 18..

Berdasarkan prestasi yang dicapai Kabupaten Banjarnegara pada pekan olahraga provinsi tahun 2013 di Kabupaten Banyumas, maka sangat jelas bahwa perlu ada keserasian antara pemerintah kabupaten dan para pemegang kebijakan yang ada di Kabupaten Banjarnegara dalam pengembangan olahraga prestasi, guna mendukung program keolahragaan.
            Hal ini dimaksudkan agar terjadi sinergi dalam pengembangan olahraga prestasi di Kabupaten Banjarnegara dan efisiensi penggunaan dana peningkatan prestasi olahraga.
Beberapa factor yang sangat berpengaruh dalam pengembangan   olahraga prestasi di Kabupaten Banjarnegara :
1.      Sumber daya manusia olahraga (pelatih, atlit, wasit dan pengurus olahraga )
2.       Sarana dan prasarana
3.      Kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Banjarnegara  
4.      Kinerja organisasi

                              Namun demikian factor potensi wilayah dan jumlah penduduk turut menunjang didalamnya.  Kabupaten Banjarnegara mempunyai luas wilayah 1.069,71 km2 persegi dan wilayah sebelah barat berbatasan: sebelah barat dengan kabupaten Purbalingga, sebelah timur dengan kabupaten Wonosobo, sebelah utara dengan Pekalongan dan kabupaten Batang, sebelah selatan dengan kabupaten Kebumen dan Kbupaten Cilacap. Dengan jumlah penduduk ± 916.875 jiwa, yang tersebar 20 kecamatan 12 kelurahan dan 266 desa. Sumber penghasilan masyarakat Banjarnegara hampir 80% adalah dari sector pertanian.

                              Dari berbagai program pembinaan olahraga prestasi 10 tahun terakhir belum memperlihatkan hasil yang maksiamal. Penetapan  cabang olahraga perioritas atau unggulan seharusnya ditetapkan berdasarkan sumber daya manusia olahraga (pengurus, pelatih, wasit dan atlet), sarana dan prasarana olahraga yang dimiliki dan kebijakan pemerintah dalam penyediaan dana pembinaan olahraga prestasi.

Di kabupaten Banjarnegara di perlukan suatu komitmen yang tinggi dan di tindak lanjuti oleh kebijakan pemerintah dalam penyediaan dana pembinaan prestasi olahraga serta transparansi yang akuntabel didalam pengembangan potensi pembianaan olahraga prestasi.

   Sehubungan dengan itu, pemerintah daerah dan komite olahraga nasional Indonesia kabupaten Banjarnegara sebagai badan pengelolah tertinggi dalam pengembangan olahraga prestasi di daerah perlu  menyikapi fenomena ini dan membuat langkah-langkah strategis untuk pengembangan olahraga prestasi di kabupaten Banjarnegara. Salah satu langkah yang mendasar perluh dilakukan adalah  perluhnya data empirik tentang sumber daya manusia  (atlet, pelatih, dan pengurus cabang olahraga).  Sarana – Prasarana Olahraga, Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Banjarnegara dan pendanaan dalam menetapkan strategi untuk mempersiapkan potensi pembinaan prestasi olahraga daerah Kabupaten Banjarnegara dalam menyongsong Pekan Olahraga Propinsi tahun 2017 di Kabupaten Tegal.

2.   Rumusan Masalah
1.      Cabang olahraga apa yang perluh dibina untuk persiapan PORPOV Tahun 2017 di Kabupaten Tegal?
2.      Faktor-faktor apa yang perluh dibenahi untuk persiapan PORPROV Tahun 2017 XIV di Kabupaten Tegal?
4. Tujuan Penelitiaan
Tujuan yang ingin di capai dalam penelitian ini adalah :
1.      Untuk mengetahui dan mendeskripsikan kondisi sumberdaya manusia olahraga yang di miliki pada cabang olahraga prestasi di kabupaten Banjarnegara.
2.      Untuk mengetahui dari kondisi sarana-prasarana yang dimiliki pada cabang olahraga prestasi di kabupaten Banjarnegara.
3.      Untuk mengetahui kebijakan pemerintah menetapakan dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dalam meningkatkan prestasi olahraga di Kabupaten Banjarnegara.
4.      Untuk mengetahui kinerja organisasi terhadap pembinaan prestasi pada cabang olahraga di Kabupaten Banjarnegara.
5. Manfaat Penelitian
1.  Manfaat bagi pemerintah daerah kabupaten pinrang dan KONI Kabupaten Banjarnegara.
a.       Menjadi acuan dalam membuat dan menetapkan kebijakan bagi pemerintah Kabupaten Banjarnegara dalam pengembangan olahraga prestasi olahraga dalam menyongsong pekan olahraga provinsi tahun 2017 di Kabupaten Tegal.
b.      Menjadi acuan dalam menetapkan pemetaan cabang olahraga prestasi di Kabupaten Banjarnegara.
c.       Dapat menjadi acuan dalam menyusun dan menetapkan program pembinaan jangka panjang KONI Kabupaten Banjarnegara menyongsong pekan olahraga provinsi tahun 2017 di Kabupaten Tegal.
  2.  Manfaat bagi pengurus cabang olahraga:
a.       Dapat menjadi acuan dalam menyusun program peningkatan kualitas pengurus dan pelatih dan atlet.
b.      Dapat menjadi dasar dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas manajemen cabang olahraga prestasi sehingga dapat mendorong atlet untuk berprestasi yang lebih tinggi.
       3.   Menjadi bahan informasi bagi instansi terkait.
4.  Menjadi bahan informasi bagi guru olahraga dan pelatih olahraga agar dapat  meningkatkan SDM karirnya.
       5.               Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan acuan untuk peneliti selanjutnya    dengan harapan dapat di kembangkan dengan variable dan permasalahan yang lebih luas.
       6.  Bagi peneliti agar lebih terampil dalam meneliti, memiliki sikap percaya diri, tingkah laku, kepribadiaan semakin matang serta bertambahnya pengetahuan itu sendiri.














BAB
II
LANDASAN TEORI

A.  Tinjauan Pustaka
1.  Potensi Olahraga Prestasi
Pengembangan olahraga sampai sekarang ini mengalami perubahan sesuai dengan perkembanagan dan penerapan teknologi dalam olahraga. IPTEK olahraga memang tidak bisa di pungkiri sebagai salah satu factor yang mempengaruhi defenisi atau pengertiaan olahraga sampai sekarang ini..
Dewasa ini semakin sukar dipisahkan muatan teknologi yang menggabungkan otot dan mesin temuan ilmiah melahirkan olahraga yang berorientasi teknologi (techno sport). Pada tingkat Internasional masih dihadapkan pada kesulitan menetapkan defenisi olahraga yang dapat memuaskan banyak orang, sehingga sampai sekarang ini ditemukan defenisi olahraga yang beragam, sesuai dengan sudut pandang disiplin ilmu keolahragaan yang digunakan memahami fenomena olahraga.
Walaupun pengertian olahraga masih beragam namun esensi pengertian olahraga kebanyakan berkaitan dengan tiga unsure pokok yaitu; bermaian, latihan fisik dan kompotensi. Defenisi olahraga yang di rumuskan dewan Eropa  (1980)  “olahraga sebagai aktivitas spontan, bebas dan dilaksanakan selama waktu luang” Pengertian ini merupakan interpretasi yang masih bersifat umum yang kemudian digunakan sebagai dasar bagi gerakan “Sport For All”.
Dari pengertian olahraga ini memberikan keluasan melaksanakan aktivitas olahraga sebagai suatu aktivitas olahraga yang tidak mengandung pengertian olahraga kompetitif.
Pengembangan olahraga prestasi sangat kompleks, sehingga memerlukan waktu yang panjang untuk menghasilkan suatu prestasi pada tingkat dareah , nasioanal dan Internasional. Waktu yang panjang juga tidak cukup, jika tidak didukung oleh suatu program latihan secara bertahap dan berkelanjutan serta membutuhkan dana yang cukup. Untuk itu dalam pengembangannya dimulai dari pemassalan melalui pendidikan jasmani dan olahraga di sekolah-sekolah dasar, kemudian dilanjutkan dengan pembinaan spesialisasi olahraga pada usia dini, pemantapan dan pembinaan lebih lanjut.
Menurut Komite Olahraga Nasional Indonesia Pusat (2004) bahwa pola pembinaan dan pengembangan olahraga di Indonesia menggunakan pola piramida terbalik yaitu: dimulai dari pemassalan melalui sekolah-sekolah dan masyarakat, kemudian talent scouting (Pemandu Bakat), Pembinaan spesialisasi cabang olahraga di klub-klub, tahap pemantapan prestasi, dan terakhir penghalusan prestasi (berprestasi Nasional dan Internasional).
                                 Dalam pengembangan olahraga prestasi di Kabupaten Banjarnegara ini memerlukan partisipasi dan pengorbanan dari berbagai pihak, karena pemerintah secara keseluruhan belum mampu menyiapkan dana. Walaupun demikian pola pembinaan prestasi yang dianut di seluruh Kabupaten Banjarnegara haruslah sama sehingga terjadi sinergi sehingga hasilnya dapat maksimal. Propenas (2000) menjelaskan pentingnya keserasian kebijakan pengembangan olahraga antara pemerintah pusat dan daerah, demikian juga dengan pemasyarakatan olahraga pendidikan jasmani, perlunya dilakukan pemanduan bakat dan pembibitan usia dini serta peningkatan prestasi olahraga.  
   Dalam pengembangan olahraga prestasi di Kabupaten Banjarnegara ada beberapa faktor yang saling mempengaruhi yaitu sumber daya manusia (atlet, pelatih dan pengurus cabang olahraga), sarana prasarana, dan kebijakan pemerintah daerah dan dana.
            Menurut litbang KONI Pusat (2004) bahwa ada beberapa komponen yang menentukan tercapainya prestasi tinggi dalam olahraga prestasi yaitu ; keadaan teknik peralatan/sarana - prasarana olahraga, keadaan pertandingan, keadaan psikologi atlet, keadaan kemampuan keterampilan atlet, keadaan kemampuan fisik atlet, keadaan konstitusi tubuh dan keadaan kemampuan taktik/strategi.
            Jika disimak pendapat tersebut, maka dapat dijelaskan bahwa komponen teknis peralatan/sarana-prasarana olahraga yang dimaksudkan adalah suatu peralatan/sarana-prasarana olahraga yang memenuhi syarat untuk digunakan dalam latihan dan pertandingan. Hal ini dimaksudkan bahwa jika seorang atlet yang tidak menggunakan peralatan/sarana-prasarana olahraga yang representatif atau up to date (sesuai perkembangan IPTEK olahraga yang mutakhir), maka sulit seorang atlet dapat berkompetisi dengan atlet lainnya yang telah lama menggunakan peralatan/sarana-prasarana olahraga yang up to date.
            Kemudian yang dimaksudkan dengan keadaan pertandingan adalah suatu kondisi dimana seorang atlet dapat melakukan adaptasi terhadap tempat, situasi, periodisasi, jumlah pertandingan, pelatih yang menangani, jumlah penonton, sponsorship dan tingkat persaingan antar atlet. Keadaan psikologi adalah suatu tingkatan percaya diri, motivasi rasa cemas dan rasa aman terhadap masa depan yang dimiliki atlet untuk dapat berprestasi tinggi.
            Keadaan kemampuan fisik, keterampilan, komposisi tubuh dan kemampuan taktik/strategi adalah suatu keadaan tingkat sumberdaya manusia yang dimilki atlet. Kemampuan keterampilan adalah suatu tingkatan keterampilan yang dimilki atlet sesuai cabang olahraganya, keadaan kondisi fisik adalah suatu tingkatan kondisi fisik yang dimilki atlet untuk dapat berprestasi atau mengikuti pertandingan tingkat daerah, nasional dan internasional.
            Komposisi tubuh adalah suatu kondisi antrophometrik tubuh dan bakat yang dimilki atlet untuk dapat berprestasi tinggi pada cabang olahraganya dan keadaan taktik/strategi adalah suatu kodisi tingkatan pengetahuan taktik/strategi yang dapat diterapkan atlet dalam suatu pertandingan untuk dapat meraih prestasi tinggi.

2.  Potensi faktor pembinaan Olahraga Prestasi di Tinjau Aspek           Sumberdaya Manusia
Sumber daya manusia yang di miliki suatu daerah menempati kedudukan paling strategik dan penting diantara sumber daya lainnya. Sumber daya manusia yang mengalokasikan dan mengelolah segenap sumber daya lainnya, bagaimanapun berlimpahnya kondisi sumber daya lainnya tanpa didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas.
Sumber daya manusia adalah model dasar pembangunan nasional pada umumnya dan peningkatan prestasi olahraga pada khususnya   Pengembangan olahraga prestasi kompleks, untuk itu di perlukan SDM yang berkualitas. Komponen SDM yang dimaksudkan adalah atlet dan pelatih.
Di Kabupaten Banjarnegara SDM seperti ini mungkin sudah ada, merupakan potensi besar bagi daerah Kabupaten Banjarbegara di masa datang, namun kualitas sumber daya manusia tersebut belum diketahui. Bagaimanakah kondisi kualitas atlet, pelatih dan pengurus olahraga? untuk jelasnya akan diuraikan komponen-komponen SDM sebagai berikut:

A.    Potensi Atlet

Sumber daya atlet memiliki peran yang sangat strategis dalam pola pembinaan olahraga, karena atlet adalah merupakan objek yang menjadi factor yang berpengaruh terhadap berhasil tidaknya suatu cabang olahraga dapat berprestasi merupakan sesuatu yang mutlak harus dimiliki oleh suatu cabang olahraga, sehingga dapat mencapai prestasi yang optimal. Atlet adalah seseorang yang telah melakukan pelatihan dari salah satu cabang olahraga secara kontinyu dalam waktu tertentu serta telah menunjukkan peningkatan prestasi secara terhadap. Mekanisme pembinaan olahraga prestasi semestinya dimulai dari tahap pemanduan bakat (talent scouting). Khusus dalam pemilihan calon atlet di daerah tidak terlepas dari kegiatan alami atau apa kegiatan sehari-hari yang dilakukan di daerah tersebut, kondisi alam, disamping kemauan atau keinginan calon atlet tersebut.
B. Potensi Pelatih Cabang Olahraga
         Pelatih adalah suatu sosok yang kadang dipuja dan kadang dicaci. Hal ini sngat tergantung pada keberhasilannya meningkatkan prestasi atletnya. Pelatih adalah orang yang secara sadar ,berkemauan keras ,terlibat dengan proses pelatihan untuk menekuni cabang olahraga yang disenaginya.
         Pelatih mempunyai tugas yang berat dalam melaksanakan suatu kepelatihan cabang olahraga, namun tugas tersebut bila berhasil mencapai prestasi yang di inginkan akan  menjadi mulia dan terhomat di masyarakat.
         Tugas utama seorang pelatih adalah membantu atlet untuk meningkatkan prestasinya setinggi mungkin. Atlet menjadi juara disebabkan karena ada hasil konvergensi  antara atlet yang berbakat dan proses pembinaan  yang benar dengan perbandingan sumbangan atlet 60% dan porsi pembinaan 40%, atlet juara lahir dan dibuat(Harsono,1988:31)
         Selanjutnya Harsono (1988:32) mengemukakan ada tiga hal yang menunjang suksesnya seorang pelatih:
1.      Latar belakang pendidikan dalam ilmu–ilmu yang erat hubunganya dengan olahraga.
2.      Pengalaman dalam olahraga , baik sebagai atlet dunia maupun sebagi pelatih.
3.      Motivasi untuk senantiasa memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan, yang mutakhir mengenai olahraga
C. Potensi Pengurus Cabang Olahraga
         Dalam pelaksanaan manejemen organisasi olahraga diperlukan tingkat SDM yang baik, karena organisasi olahraga merupakan orgnisasi semi formal. Kinerja organisasi di ukur dari prestasi yang telah di capai. Organiasasi membutuhkan manejemen yang efektif untuk mencapai tujuan secara efektif dan efesien, dengan mencapai prestasi yang di ukur dengan criteria yang relevan.
         Kegiatan-kegiatan organisasi olahraga diarahkan untuk mengurus berbagai kebutuhan dalam pembinaan peningkatan prestasi atlet. Manajemen olahraga dibagi dua bagian yaitu manajemen olahraga pemerintah dan  Manajemen olahraga swasta.
              Animo masyarakat terhadap pembinaan olahraga prestasi, kemauan dan kerelaan masyarakat dalam membantu pengembangan olahraga sangat dibutuhkan. Organisasi adalah kinerja sama antara dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Sedangkan kinerja organisasi adalah aktivitas dan tanggung jawab pengurus untuk memajukan lembaga yang diurusnya.

       3.  Potensi faktor pembinaan Olahraga Ditinjau dari Aspek Sarana-Prasarana
           Pengembangan olahraga prestasi juga didukung oleh adanya sarana-prasarana yang memadai atau sesuai dengan standar yang digunakan dalam pertandingan resmi cabang olahraga tersebut.
Menurut Direktur Pendidikan Dasar, (1999:38) bahwa sarana dan prasarana merupakan faktor pendukung keberhasilan pembinaan olahraga, yang harus tersedia bagi setiap upaya peningkatan prestasi sebagai tujuan utama pembinaan olahrga.
Menurut Purnomohadi, (2003) mengatakan bahwa kebutuhan sarana dan prasarana perlu memperhatikan tiga faktor:
1.      Kualitas
2.      Kuantitas
3.      Dana  
          Untuk sumberdaya fasilitas terdiri atas: (1) atlet dan (2) pelatih. Untuk atlet terdiri atas: pemondokan dan makanan yang baik dan dekat dengan lokasi latihan, akses pada kesempatan pendidikan yang memadai, akses dengan transportasi mudah, akses pada kesempatan pendidikan yang memadai, akses dengan tempat kerja yang relatif dekat, dukung masyarakat, termasuk dukungan dari media.
            Untuk pelatih terdiri atas, akses terhadap sumberdaya personil yang cukup seperti asisten peltih, manajer dan ahli sport medicine, akses pada fasilitas dan pelayanan untuk semuanya seperti ruang belajar, ruang latihan beban dan peralatannya.

       4. Potensi faktor pembinaan Olahraga Prestasi di tinjau dari Aspek Kebijakan    Pemerintah

            Untuk mengembankan olahraga prestasi di Kabupaten Banjarnegara memang tidaklah  Mudah, karena persoalannya sangat kompleks dan menuntut komitmen tinggi dari semua unsur yang terlibat didalamnya dan hal ini sangat berbeda dengan daerah lain.
            Noerbai (2003) mengemukakan bahwa di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman, Rusia dan Eropa lainnya, olahraga sudah merupakan suatu kebutuhan bagi masyarakat, sehingga masyarakat sendiri yang mendirikan klub-klub dan masuk menjadi anggota pada perkumpulan-perkumpulan untuk melakukan aktivitas fisik, jadi olahraganya tumbuh dari bawah.
         Selanjutnya dikemukakan juga bahwa kalau di Indonesia pengembangan olahraga prestasi haruslah dimulai dari atas atau dari pimpinan Negera (kebijakan pemerintah pusat dan daerah) dan untuk mengembangkan masih harus melakukan negosiasi yang baik dengan pemerintah, sehingga anggaran yang dibutuhkan bisa disiapkan oleh pemerintah (Noerbai, 2003).
            Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengembangan olahraga prestasi di Kabupaten  masih tergantung pada pola kebijakan pemerintah ditingkat provinsi  dan dukungan dari masyarakat, kebijakan pemerintah dan dukungan masyarakat berupa penyediaan dana yang cukup pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah, sehingga proses pembinaan atlet dapat berjalan secara sistematik, kontinyu dan berkesinambungan.

5. Potensi faktor pembinaan  olahraga prestasi ditinjau dari Kinerja organisasi  

                     Dalam olahraga sangat dibutuhkan suatu manajemen olahraga dimana manajemen olahraga terbagi dalam 2 bagian manajemen olahraga pemerintah dan manajemen olahraga swasta.
                    Organisasi merupakan suatu wadah atau alat untuk mencapai tujuan organisasi Anwar Pasau (2006). Dalam suatu organisasi harus dapat menampung berbagai program kegiatan yang telah di rancang untuk mencapai tujuaan organisasi. Harsuki (2002) Menyatakan nilai suatu organisasi tergantung pelaku organisasi itu sendiri. Dalam upaya meningkatkan prestasi atlet maka kinerja organiasi keolahragaan harus ditingkatkan kualitasnya baik ditingkat pusat maupun daerah.
                      Peningkatan prestasi olahraga dapat di tingkatkan semaksimal mungkin dengan memperhatikan kinerja organisasi pada masing-masing cabang olahraga. Organiasi dan manajemen olahraga harus kondusif yang dilakukan dengan efisien dan efektif.      

6. Kerangka Pikir Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan kajian teori yang telah dikemukanan maka disusun kerangka pikir penelitian sebagai berikut :
Pada dasarnya rancangan suatu program dalam pencapaian hasil yang maksimal di perlukan langkah-langkah pengembangan strategi pembinaan olahraga potensial yang komplit dan didukung oleh Sumberdaya manusia, sarana prasarana, kinerja organisasi dan kebijakan pemerintah dalam hal dana. Ketika ini dilaksanakan secara menyeluruh dan berkesinambungan maka akan mendapatkan hasil yang maksimal.

BAB
III
METODOLOGI PENELITIAN

1.  Jenis Penelitian dan Lokasi
Jenis Penelitian ini adalah deskriptif
Lokasi Penelitian di Kabupaten Banjarnegara
2.Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini variabel yang di teliti adalah :
1.      Olahraga prestasi 
2.      Faktor pendukung olahraga prestasi adalah
a.       Kondisi sumber daya manusia (pelatih, atlet dan pengurus cabang olahraga) di kabupaten
b.      Kondisi sarana-prasarana olahraga
c.       Kebijakan pemerintah daerah 
d.      Kinerja organisasi
3.  Definisi operasional variabel pada penelitian ini adalah :
1.      Olahraga prestasi adalah suatu cabang olahraga yang dibina secara continyu dan sistimatis
2.      Faktor pendukung olahraga prestasi adalah
a.       Sumber daya manusia olahraga adalah kondisi kualitas atlet dan pelatih.
b.      Sarana dan prasarana olahraga ialah fasilitas atau alat yang di perlukan untuk penilaian mengenai ketersediaan, kelayakan, kelengkapan, keterjangkauan, keefektifitasan stadion olahraga, gedungh olahraga, lapangan olahraga, kolam renang dan lain-lain.
c.       Kebijakan pemerintah kabupaten adalah Suatu keputusan yang di  keluarkan oleh pemerintah dalam mendukung upaya peningkatan prestasi olahraga di daerah dengan  adanya cabang olahraga prioritas dan tersedianya dana dalam Anggaran Pendapatan  Belanja Daerah (APBD) Kabupaten untuk membiayai pengembangan cabang olahraga yang di pertandingkan pada pekan olahraga provinsi tahun 2017 di Kabupaten Tegal.
d.      Kinerja organisasi adalah suatu bentuk kerjasama dalam sistem mengenai pekerjaan yang dirumuskan dengan cara efisien dan efektif dalam membangun organisasi.  Organisasi adalah institusi yang melakukan perencanaan, rekruitmen dan pengembangan sumber daya manusia

4. Objek/Sasaran dan Informan Penelitian
1.      Objek/Sasaran
Objek penelitian ini adalah potensi pembinaan olahraga prestasi  yang ada di daerah kabupaten Banjarnegara. Dalam rangka pengembangan pembinaan olahraga prestasi di kabupaten Banjarnegara, meliputi beberapa faktor pendukung sarana dan prasarana, sumber daya manusia terdiri dari atlet, pelatih, guru, olahraga, wasit dan pengurus organisasi keolahragaan serta kinerja organisasi dan kebijakan pemerintah dalam hal pendanaan.
2.      Informan
Informan penelitian adalah pejabat pada tingkat daerah yang terlibat langsung dalam pembinaan olahraga. Koentjaraningrat (1997) menyatakan bahwa istilah informan digunakan dalam penelitian ini karena orang yang memberi keterangan mempunyai pengetahuan luas mengenai situasi di lapangan. Maka yang menjadi sasaran adalah pejabat dinas pendidikan, pengurus KONIDA, guru olahraga, atlet wasit, pelatih. Tokoh masyarakat, tokoh olahraga serta orang-orang yang berkompeten atau terlibat langsung dalam pembinaan olahraga, dalam hal ini mereka dapat memberikan informasi atau data mengenai potensi-potensi yang dimiliki daerah.
5. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data sehubungan dengan variabel dalam penelitian ini. Maka digunakan teknik-teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1.      Angket
a.      Angket sarana dan prasarana
Angket sarana dan prasarana digunakan untuk mengetahui jumlah sarana olahraga, sarana dan prasarana daerah, nasional dan internasional, sarana dan prasarana yang tidak layak digunakan karena alasan rusak, peralatan-peralatan berat olahraga, gedung olahraga (hall) kolam renang, kondisi alam.
b.      Angket atlet
Angket atlet digunakan untuk memperoleh data tentang penjaringan atlet, jumlah atlet umum dan pelajar daerah, atlet nasional, atlet internasional masing-masing cabang olahraga, dan prestasi yang sudah dicapai pada masing-masing cabang olahraga selama lima tahun terakhir.
c.    Angket wasit
Angket wasit digunakan untuk memperoleh data tentang jumlah wasit pada masing-masing cabang olehraga, kursus yang pernah diikuti, kualifikasi wasit serta prestasi pada masing-masing cabang olahraga yang bersangkutan serta keterlibatan dalam pembinaan olahraga serta jumlah wasit yang aktif tetapi belum mempunyai sertifikat.
d.      Angket Pelatih
Angket pelatih digunakan untuk mengetahui jumlah pelatih daerah nasional dan internasional, kualifikasi, kursus kepelatihan, prestasi pelatih yang pernah dicapai pada masing-masing cabang olaraga yang bersangkutan dan pelatih belum mempunyai sertifikat.
e.    Angket guru olahraga
Angket guru olahraga digunakan untuk memperoleh data tentang jumlah sekolah, jumlah guru olahraga, guru mengajar pendidikan jasmani bukan jurusan olahraga, pendidikan terakhir guru penjaskes dan keterlibatan dalam pembinaan olahraga, jumlah sekolah yang aktif kegiatan ektrkurikuler olahraga.
f.   Angket kinerja organisasi
Angket kinerja organisasi digunakan mengetahui cabang olahraga yang dikembangkan dan dibina, mempunyai organisasi atau tidak. Jumlah klub yang aktif pada masing-masing induk organisasi yang ada di setiap kecamatan. Cabang olahraga/klub yang dibina dalam KONIDA, swasta dan masyarakat. Olahraga yang berkembang namun pengurusnya belum dilantik, olahraga yang berkembang namun kurang peminatnya, olahraga yang banyak diminati para pelajar dan msayarakat umum. Pada angket ini juga untuk memperoleh data tentang atlet yang sering dikirim untuk mengikuti pertandingan, induk organisasi yang sering mengadakan kejuaraan dan kejuaran antar apa yang sering diadakan serta data tentang peringkat percabang cabang olahraga.
g.  Angket dana
Angket dana digunakan untuk memperoleh data tentang sumber-sumber   pendanaan terhadap pembinaan olahraga, berapa kali diberikan bantuan, dalam bentuk apapun bantuan itu diberikan, perhatian  pemerintah tentang atlet yang berprestasi tingkat daerah, nasional dan tingkat internasional, serta jumlah cabang olahraga yang didanai langsung dari pemerintah, perusahaan, KONI, BUMN, dan swadaya masyarakat.
            h. Angket pemerintah
Angket yang digunakan untuk memperoleh data tentang sampai sejauh mana kebijakan pemerintah dalam pembinaan olahraga prestasi di kabupaten Pinrang
2.  Wawancara
Teknik wawancara digunakan untuk memperoleh data atau keterangan secara lisan dari seseorang sebagai pelengkap tentang kinerja organisasi, sumber daya manusia dan sistem pembinaan olahraga prestasi yang dikembangkan pada daerah tersebut. Olahraga yang ingin dikembangkan pada daerah tersebut. Olahraga tradisional yang banyak diminati masyarakat. Pada penelitian ini wawancara dilakukan terhadap tokoh masyarakat, unsur pemerintah dan pengurus KONI daerah.
  3.  Dokumentasi
              Teknik dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan atau memuat data tentang sarana dan prasarana, hasil perolehan medali masing-masing daerah pada cabang olahraga yang pernah dicapai atlet dalam PORPROV. Teknik dokumentasi ini juga melihat prestasi yang pernah dicapai oleh daerah maupun nasional.
4.  Observasi
Teknik pengumpulan data dengan observasi adalah mengamati peristiwa atau situasi yang terjadi oleh calon peneliti. Hal ini ditujukan untuk mengamati secara langsung sarana dan prasarana, kondisi geografis, kebiasaan atau kegiatan alami yang dilakukan umumnya penduduk setempat yang memungkinkan ditransfer ke dalam suatu cabang olahraga.









Daftar Pustaka
https://www.scribd.com/doc/98533121/Proposal-Tesis-Olahraga-Analisis-Strategi-Potensi-Pembinaan-Olahraga-Prestasi-Di-Daerah-Dalam-Menyongsong-Pekan-Olahraga-Daerah