ANALISIS STRATEGI POTENSI PEMBINAAN
OLAHRAGA PRESTASI KABUPATEN BANJARNEGARA
DALAM PERSIAPAN PEKAN OLAHRAGA PROVINSI
TAHUN 2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Sebagaimana diamanahkan dalam Undang-Undang
No.25 Thn 2000 (selanjutnya disingkat UU No.25/2000) tentang program
pembangunan nasional (PROPENAS) tahun 2000 sampai 2004 khususnya dalam bidang
olahraga adalah :
Program
pengembangan dan keserasian kebijakan olahraga
1.
Program pengembangan dan keserasian
kebijakan olahraga
2.
Program pemasyarakatan olahraga
3.
Program pemanduan bakat dan bibit
olahraga
4.
Program peningkatan prestasi olahraga
Ditambah Undang-Undang Republik Indonesia nomor
3 tahun 2005 tentang system keolahragaan nasional. Kemudian berjalannya otonomi
daerah yang memberikan motivasi kepada kita semua dalam rangka pengembangan
suatu wilayah dalam sauna yang kondusif dan dalam wawasan yang demokratis
dilanjutkan lagi dengan adanya kebijakan bupati Kabupaten Banjarnegara yang
berfokus pada peningkatan sumber daya manusia masyarakat Kabupaten Banjarnegara
khususnya pada bidang pendidikan jasmani dan olahraga di sekolah-sekolah dan
masyarakat sebagai subsistim pendidikan secara menyeluruh yang nantinya dapat
meningkatkan kualitas fisik, karakter, etika, disiplin, dan kepribadian
masyarakat Banjarnegara.
Tolak ukur
keberhasilan pembinaan prestasi olahraga yang dicapai oleh Kabupaten
Banjarnegara pada pekan olahraga Provinsi (PORPROV) dari tahun ke tahun
mengalami peningkatan. walaupun pada pekan olahraga provinsi tahun 2013 yang
diselenggarakan di Banyumas sedikit mengalami peningkatan peringkat yaitu dari
peringkat ke XII pada tahun 2009 dan
peringkat ke IX pada tahun 2013, namun perolehan medali tersebut tidak
signifikan. Pada pekan olahraga provinsi tahun 2013 kabupaten Banjarnegara meduduki
peringkat ke IX dengan medali emas 20. Pada medali perak 15, sedangkan
medali perunggu 18..
Berdasarkan prestasi yang dicapai Kabupaten
Banjarnegara pada pekan olahraga provinsi tahun 2013 di Kabupaten Banyumas,
maka sangat jelas bahwa perlu ada keserasian antara pemerintah kabupaten dan
para pemegang kebijakan yang ada di Kabupaten Banjarnegara dalam pengembangan
olahraga prestasi, guna mendukung program keolahragaan.
Hal ini dimaksudkan agar terjadi sinergi
dalam pengembangan olahraga prestasi di Kabupaten Banjarnegara dan efisiensi
penggunaan dana peningkatan prestasi olahraga.
Beberapa factor yang sangat berpengaruh dalam
pengembangan olahraga prestasi di Kabupaten Banjarnegara :
1.
Sumber daya manusia olahraga
(pelatih, atlit, wasit dan pengurus olahraga )
2.
Sarana dan prasarana
3.
Kebijakan pemerintah daerah Kabupaten
Banjarnegara
4.
Kinerja organisasi
Namun
demikian factor potensi wilayah dan jumlah penduduk turut menunjang
didalamnya. Kabupaten Banjarnegara mempunyai luas wilayah 1.069,71
km2 persegi dan wilayah sebelah barat berbatasan: sebelah barat
dengan kabupaten Purbalingga, sebelah timur dengan kabupaten Wonosobo, sebelah
utara dengan Pekalongan dan kabupaten Batang, sebelah selatan dengan kabupaten
Kebumen dan Kbupaten Cilacap. Dengan jumlah penduduk ± 916.875 jiwa, yang tersebar 20 kecamatan 12 kelurahan
dan 266 desa. Sumber penghasilan masyarakat Banjarnegara hampir 80% adalah dari
sector pertanian.
Dari
berbagai program pembinaan olahraga prestasi 10 tahun terakhir belum
memperlihatkan hasil yang maksiamal. Penetapan cabang olahraga perioritas
atau unggulan seharusnya ditetapkan berdasarkan sumber daya manusia olahraga
(pengurus, pelatih, wasit dan atlet), sarana dan prasarana olahraga yang
dimiliki dan kebijakan pemerintah dalam penyediaan dana pembinaan olahraga
prestasi.
Di kabupaten Banjarnegara di perlukan suatu
komitmen yang tinggi dan di tindak lanjuti oleh kebijakan pemerintah dalam
penyediaan dana pembinaan prestasi olahraga serta transparansi yang akuntabel didalam
pengembangan potensi pembianaan olahraga prestasi.
Sehubungan dengan itu, pemerintah
daerah dan komite olahraga nasional Indonesia kabupaten Banjarnegara sebagai
badan pengelolah tertinggi dalam pengembangan olahraga prestasi di daerah perlu
menyikapi fenomena ini dan membuat
langkah-langkah strategis untuk pengembangan olahraga prestasi di kabupaten
Banjarnegara. Salah satu langkah yang mendasar perluh dilakukan adalah
perluhnya data empirik tentang sumber daya manusia (atlet, pelatih, dan pengurus
cabang olahraga). Sarana – Prasarana Olahraga, Kebijakan Pemerintah
Daerah Kabupaten Banjarnegara dan pendanaan dalam menetapkan strategi untuk
mempersiapkan potensi pembinaan prestasi olahraga daerah Kabupaten Banjarnegara
dalam menyongsong Pekan Olahraga Propinsi tahun 2017 di Kabupaten Tegal.
2. Rumusan Masalah
1.
Cabang olahraga apa yang perluh
dibina untuk persiapan PORPOV Tahun 2017 di Kabupaten Tegal?
2. Faktor-faktor apa
yang perluh dibenahi untuk persiapan PORPROV Tahun 2017 XIV di Kabupaten Tegal?
4. Tujuan Penelitiaan
Tujuan yang ingin
di capai dalam penelitian ini adalah :
1.
Untuk mengetahui dan mendeskripsikan
kondisi sumberdaya manusia olahraga yang di miliki pada cabang olahraga
prestasi di kabupaten Banjarnegara.
2.
Untuk mengetahui dari kondisi
sarana-prasarana yang dimiliki pada cabang olahraga prestasi di kabupaten
Banjarnegara.
3.
Untuk mengetahui kebijakan pemerintah
menetapakan dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dalam meningkatkan
prestasi olahraga di Kabupaten Banjarnegara.
4.
Untuk mengetahui kinerja organisasi
terhadap pembinaan prestasi pada cabang olahraga di Kabupaten Banjarnegara.
5. Manfaat Penelitian
1. Manfaat
bagi pemerintah daerah kabupaten pinrang dan KONI Kabupaten Banjarnegara.
a.
Menjadi acuan dalam membuat dan menetapkan
kebijakan bagi pemerintah Kabupaten Banjarnegara dalam pengembangan olahraga
prestasi olahraga dalam menyongsong pekan olahraga provinsi tahun 2017 di
Kabupaten Tegal.
b.
Menjadi acuan dalam menetapkan
pemetaan cabang olahraga prestasi di Kabupaten Banjarnegara.
c.
Dapat menjadi acuan dalam menyusun
dan menetapkan program pembinaan jangka panjang KONI Kabupaten Banjarnegara menyongsong
pekan olahraga provinsi tahun 2017 di Kabupaten Tegal.
2. Manfaat bagi pengurus cabang
olahraga:
a.
Dapat menjadi acuan dalam menyusun
program peningkatan kualitas pengurus dan pelatih dan atlet.
b.
Dapat menjadi dasar dalam memperbaiki
dan meningkatkan kualitas manajemen cabang olahraga prestasi sehingga dapat
mendorong atlet untuk berprestasi yang lebih tinggi.
3. Menjadi bahan informasi bagi instansi
terkait.
4. Menjadi bahan informasi bagi
guru olahraga dan pelatih olahraga agar dapat meningkatkan SDM karirnya.
5. Hasil
penelitian ini dapat menjadi bahan acuan untuk peneliti selanjutnya dengan harapan dapat di kembangkan dengan
variable dan permasalahan yang lebih luas.
6. Bagi
peneliti agar lebih terampil dalam meneliti, memiliki sikap percaya diri,
tingkah laku, kepribadiaan semakin matang serta bertambahnya pengetahuan itu
sendiri.
BAB
II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan
Pustaka
1. Potensi
Olahraga Prestasi
Pengembangan olahraga sampai sekarang ini
mengalami perubahan sesuai dengan perkembanagan dan penerapan teknologi dalam
olahraga. IPTEK olahraga memang tidak bisa di pungkiri sebagai salah satu
factor yang mempengaruhi defenisi atau pengertiaan olahraga sampai sekarang
ini..
Dewasa ini semakin sukar dipisahkan muatan
teknologi yang menggabungkan otot dan mesin temuan ilmiah melahirkan olahraga
yang berorientasi teknologi (techno sport). Pada tingkat Internasional masih
dihadapkan pada kesulitan menetapkan defenisi olahraga yang dapat memuaskan
banyak orang, sehingga sampai sekarang ini ditemukan defenisi olahraga yang
beragam, sesuai dengan sudut pandang disiplin ilmu keolahragaan yang digunakan
memahami fenomena olahraga.
Walaupun pengertian olahraga masih beragam namun
esensi pengertian olahraga kebanyakan berkaitan dengan tiga unsure pokok yaitu;
bermaian, latihan fisik dan kompotensi. Defenisi olahraga yang di rumuskan
dewan Eropa (1980) “olahraga sebagai aktivitas spontan, bebas dan
dilaksanakan selama waktu luang” Pengertian ini merupakan interpretasi yang
masih bersifat umum yang kemudian digunakan sebagai dasar bagi gerakan “Sport
For All”.
Dari pengertian olahraga ini memberikan keluasan
melaksanakan aktivitas olahraga sebagai suatu aktivitas olahraga yang tidak
mengandung pengertian olahraga kompetitif.
Pengembangan olahraga prestasi sangat kompleks,
sehingga memerlukan waktu yang panjang untuk menghasilkan suatu prestasi pada
tingkat dareah , nasioanal dan Internasional. Waktu yang panjang juga tidak
cukup, jika tidak didukung oleh suatu program latihan secara bertahap dan
berkelanjutan serta membutuhkan dana yang cukup. Untuk itu dalam
pengembangannya dimulai dari pemassalan melalui pendidikan jasmani dan olahraga
di sekolah-sekolah dasar, kemudian dilanjutkan dengan pembinaan spesialisasi
olahraga pada usia dini, pemantapan dan pembinaan lebih lanjut.
Menurut Komite Olahraga Nasional Indonesia Pusat
(2004) bahwa pola pembinaan dan pengembangan olahraga di Indonesia menggunakan
pola piramida terbalik yaitu: dimulai dari pemassalan melalui sekolah-sekolah
dan masyarakat, kemudian talent scouting (Pemandu Bakat), Pembinaan
spesialisasi cabang olahraga di klub-klub, tahap pemantapan prestasi, dan
terakhir penghalusan prestasi (berprestasi Nasional dan Internasional).
Dalam pengembangan olahraga
prestasi di Kabupaten Banjarnegara ini memerlukan partisipasi dan pengorbanan
dari berbagai pihak, karena pemerintah secara keseluruhan belum mampu
menyiapkan dana. Walaupun demikian pola pembinaan prestasi yang dianut di
seluruh Kabupaten Banjarnegara haruslah sama sehingga terjadi sinergi sehingga
hasilnya dapat maksimal. Propenas (2000) menjelaskan pentingnya keserasian
kebijakan pengembangan olahraga antara pemerintah pusat dan daerah, demikian
juga dengan pemasyarakatan olahraga pendidikan jasmani, perlunya dilakukan
pemanduan bakat dan pembibitan usia dini serta peningkatan prestasi
olahraga.
Dalam
pengembangan olahraga prestasi di Kabupaten Banjarnegara ada beberapa faktor
yang saling mempengaruhi yaitu sumber daya manusia (atlet, pelatih dan pengurus
cabang olahraga), sarana prasarana, dan kebijakan pemerintah daerah dan dana.
Menurut
litbang KONI Pusat (2004) bahwa ada beberapa komponen yang menentukan
tercapainya prestasi tinggi dalam olahraga prestasi yaitu ; keadaan teknik
peralatan/sarana - prasarana olahraga, keadaan pertandingan, keadaan psikologi
atlet, keadaan kemampuan keterampilan atlet, keadaan kemampuan fisik atlet,
keadaan konstitusi tubuh dan keadaan kemampuan taktik/strategi.
Jika
disimak pendapat tersebut, maka dapat dijelaskan bahwa komponen teknis
peralatan/sarana-prasarana olahraga yang dimaksudkan adalah suatu
peralatan/sarana-prasarana olahraga yang memenuhi syarat untuk digunakan dalam
latihan dan pertandingan. Hal ini dimaksudkan bahwa jika seorang atlet yang
tidak menggunakan peralatan/sarana-prasarana olahraga yang representatif atau up
to date (sesuai perkembangan IPTEK olahraga yang mutakhir), maka
sulit seorang atlet dapat berkompetisi dengan atlet lainnya yang telah lama
menggunakan peralatan/sarana-prasarana olahraga yang up to date.
Kemudian
yang dimaksudkan dengan keadaan pertandingan adalah suatu kondisi dimana
seorang atlet dapat melakukan adaptasi terhadap tempat, situasi, periodisasi,
jumlah pertandingan, pelatih yang menangani, jumlah penonton, sponsorship dan
tingkat persaingan antar atlet. Keadaan psikologi adalah suatu tingkatan
percaya diri, motivasi rasa cemas dan rasa aman terhadap masa depan yang
dimiliki atlet untuk dapat berprestasi tinggi.
Keadaan
kemampuan fisik, keterampilan, komposisi tubuh dan kemampuan taktik/strategi
adalah suatu keadaan tingkat sumberdaya manusia yang dimilki atlet. Kemampuan
keterampilan adalah suatu tingkatan keterampilan yang dimilki atlet sesuai
cabang olahraganya, keadaan kondisi fisik adalah suatu tingkatan kondisi fisik
yang dimilki atlet untuk dapat berprestasi atau mengikuti pertandingan tingkat
daerah, nasional dan internasional.
Komposisi
tubuh adalah suatu kondisi antrophometrik tubuh dan bakat yang dimilki
atlet untuk dapat berprestasi tinggi pada cabang olahraganya dan keadaan
taktik/strategi adalah suatu kodisi tingkatan pengetahuan taktik/strategi yang
dapat diterapkan atlet dalam suatu pertandingan untuk dapat meraih prestasi
tinggi.
2. Potensi faktor pembinaan Olahraga
Prestasi di Tinjau Aspek Sumberdaya
Manusia
Sumber daya manusia yang di miliki suatu daerah
menempati kedudukan paling strategik dan penting diantara sumber daya lainnya.
Sumber daya manusia yang mengalokasikan dan mengelolah segenap sumber daya
lainnya, bagaimanapun berlimpahnya kondisi sumber daya lainnya tanpa didukung
oleh sumber daya manusia yang berkualitas.
Sumber daya manusia adalah model dasar
pembangunan nasional pada umumnya dan peningkatan prestasi olahraga pada
khususnya Pengembangan olahraga prestasi kompleks, untuk itu di
perlukan SDM yang berkualitas. Komponen SDM yang dimaksudkan adalah atlet dan
pelatih.
Di Kabupaten Banjarnegara SDM seperti ini
mungkin sudah ada, merupakan potensi besar bagi daerah Kabupaten Banjarbegara
di masa datang, namun kualitas sumber daya manusia tersebut belum diketahui.
Bagaimanakah kondisi kualitas atlet, pelatih dan pengurus olahraga? untuk
jelasnya akan diuraikan komponen-komponen SDM sebagai berikut:
A. Potensi Atlet
Sumber daya atlet memiliki peran yang sangat
strategis dalam pola pembinaan olahraga, karena atlet adalah merupakan objek
yang menjadi factor yang berpengaruh terhadap berhasil tidaknya suatu cabang
olahraga dapat berprestasi merupakan sesuatu yang mutlak harus dimiliki oleh
suatu cabang olahraga, sehingga dapat mencapai prestasi yang optimal. Atlet
adalah seseorang yang telah melakukan pelatihan dari salah satu cabang olahraga
secara kontinyu dalam waktu tertentu serta telah menunjukkan peningkatan
prestasi secara terhadap. Mekanisme pembinaan olahraga prestasi semestinya
dimulai dari tahap pemanduan bakat (talent scouting). Khusus dalam
pemilihan calon atlet di daerah tidak terlepas dari kegiatan alami atau apa
kegiatan sehari-hari yang dilakukan di daerah tersebut, kondisi alam, disamping
kemauan atau keinginan calon atlet tersebut.
B. Potensi Pelatih Cabang Olahraga
Pelatih
adalah suatu sosok yang kadang dipuja dan kadang dicaci. Hal ini sngat
tergantung pada keberhasilannya meningkatkan prestasi atletnya. Pelatih adalah
orang yang secara sadar ,berkemauan keras ,terlibat dengan proses pelatihan
untuk menekuni cabang olahraga yang disenaginya.
Pelatih
mempunyai tugas yang berat dalam melaksanakan suatu kepelatihan cabang
olahraga, namun tugas tersebut bila berhasil mencapai prestasi yang di inginkan
akan menjadi mulia dan terhomat di masyarakat.
Tugas
utama seorang pelatih adalah membantu atlet untuk meningkatkan prestasinya
setinggi mungkin. Atlet menjadi juara disebabkan karena ada hasil
konvergensi antara atlet yang berbakat dan proses pembinaan yang
benar dengan perbandingan sumbangan atlet 60% dan porsi pembinaan 40%, atlet
juara lahir dan dibuat(Harsono,1988:31)
Selanjutnya
Harsono (1988:32) mengemukakan ada tiga hal yang menunjang suksesnya seorang
pelatih:
1.
Latar belakang pendidikan dalam ilmu–ilmu
yang erat hubunganya dengan olahraga.
2.
Pengalaman dalam olahraga , baik
sebagai atlet dunia maupun sebagi pelatih.
3.
Motivasi untuk senantiasa memperkaya
diri dengan ilmu pengetahuan, yang mutakhir mengenai olahraga
C. Potensi Pengurus Cabang Olahraga
Dalam pelaksanaan manejemen organisasi
olahraga diperlukan tingkat SDM yang baik, karena organisasi olahraga merupakan
orgnisasi semi formal. Kinerja organisasi di ukur dari prestasi yang
telah di capai. Organiasasi membutuhkan manejemen yang efektif untuk mencapai
tujuan secara efektif dan efesien, dengan mencapai prestasi yang di ukur dengan
criteria yang relevan.
Kegiatan-kegiatan organisasi olahraga
diarahkan untuk mengurus berbagai kebutuhan dalam pembinaan peningkatan
prestasi atlet. Manajemen olahraga
dibagi dua bagian yaitu manajemen olahraga pemerintah dan Manajemen
olahraga swasta.
Animo masyarakat terhadap pembinaan olahraga prestasi, kemauan dan kerelaan
masyarakat dalam membantu pengembangan olahraga sangat dibutuhkan. Organisasi
adalah kinerja sama antara dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan sebelumnya. Sedangkan kinerja organisasi adalah aktivitas dan
tanggung jawab pengurus untuk memajukan lembaga yang diurusnya.
3. Potensi faktor pembinaan
Olahraga Ditinjau dari Aspek Sarana-Prasarana
Pengembangan
olahraga prestasi juga didukung oleh adanya sarana-prasarana yang memadai atau
sesuai dengan standar yang digunakan dalam pertandingan resmi cabang olahraga
tersebut.
Menurut Direktur Pendidikan Dasar, (1999:38)
bahwa sarana dan prasarana merupakan faktor pendukung keberhasilan pembinaan
olahraga, yang harus tersedia bagi setiap upaya peningkatan prestasi sebagai
tujuan utama pembinaan olahrga.
Menurut Purnomohadi, (2003) mengatakan bahwa
kebutuhan sarana dan prasarana perlu memperhatikan tiga faktor:
1.
Kualitas
2.
Kuantitas
3.
Dana
Untuk sumberdaya fasilitas terdiri atas:
(1) atlet dan (2) pelatih. Untuk atlet terdiri atas: pemondokan dan makanan
yang baik dan dekat dengan lokasi latihan, akses pada kesempatan pendidikan
yang memadai, akses dengan transportasi mudah, akses pada kesempatan pendidikan
yang memadai, akses dengan tempat kerja yang relatif dekat, dukung masyarakat,
termasuk dukungan dari media.
Untuk
pelatih terdiri atas, akses terhadap sumberdaya personil yang cukup seperti
asisten peltih, manajer dan ahli sport medicine, akses pada fasilitas dan pelayanan
untuk semuanya seperti ruang belajar, ruang latihan beban dan peralatannya.
4.
Potensi faktor pembinaan Olahraga Prestasi di tinjau dari Aspek
Kebijakan Pemerintah
Untuk
mengembankan olahraga prestasi di Kabupaten Banjarnegara memang tidaklah
Mudah, karena persoalannya sangat kompleks dan menuntut komitmen tinggi dari
semua unsur yang terlibat didalamnya dan hal ini sangat berbeda dengan daerah
lain.
Noerbai
(2003) mengemukakan bahwa di negara-negara maju seperti Amerika Serikat,
Jerman, Rusia dan Eropa lainnya, olahraga sudah merupakan suatu kebutuhan bagi
masyarakat, sehingga masyarakat sendiri yang mendirikan klub-klub dan masuk
menjadi anggota pada perkumpulan-perkumpulan untuk melakukan aktivitas fisik,
jadi olahraganya tumbuh dari bawah.
Selanjutnya dikemukakan juga bahwa kalau di Indonesia pengembangan olahraga
prestasi haruslah dimulai dari atas atau dari pimpinan Negera (kebijakan
pemerintah pusat dan daerah) dan untuk mengembangkan masih harus melakukan
negosiasi yang baik dengan pemerintah, sehingga anggaran yang dibutuhkan bisa
disiapkan oleh pemerintah (Noerbai, 2003).
Dari
uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengembangan olahraga prestasi di
Kabupaten masih tergantung pada pola kebijakan pemerintah ditingkat
provinsi dan dukungan dari masyarakat, kebijakan pemerintah dan dukungan
masyarakat berupa penyediaan dana yang cukup pada Anggaran Pendapatan Belanja
Daerah, sehingga proses pembinaan atlet dapat berjalan secara sistematik,
kontinyu dan berkesinambungan.
5. Potensi faktor pembinaan
olahraga prestasi ditinjau dari Kinerja organisasi
Dalam olahraga sangat dibutuhkan suatu manajemen olahraga dimana manajemen
olahraga terbagi dalam 2 bagian manajemen olahraga pemerintah dan manajemen
olahraga swasta.
Organisasi merupakan suatu wadah
atau alat untuk mencapai tujuan organisasi Anwar Pasau (2006). Dalam suatu
organisasi harus dapat menampung berbagai program kegiatan yang telah di
rancang untuk mencapai tujuaan organisasi. Harsuki (2002) Menyatakan nilai
suatu organisasi tergantung pelaku organisasi itu sendiri. Dalam upaya
meningkatkan prestasi atlet maka kinerja organiasi keolahragaan harus
ditingkatkan kualitasnya baik ditingkat pusat maupun daerah.
Peningkatan prestasi olahraga dapat di
tingkatkan semaksimal mungkin dengan memperhatikan kinerja organisasi pada
masing-masing cabang olahraga. Organiasi dan manajemen olahraga harus kondusif
yang dilakukan dengan efisien dan efektif.
6. Kerangka
Pikir Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan kajian teori yang
telah dikemukanan maka disusun kerangka pikir penelitian sebagai berikut :
Pada dasarnya rancangan suatu program dalam
pencapaian hasil yang maksimal di perlukan langkah-langkah pengembangan strategi
pembinaan olahraga potensial yang komplit dan didukung oleh Sumberdaya manusia,
sarana prasarana, kinerja organisasi dan kebijakan pemerintah dalam hal dana.
Ketika ini dilaksanakan secara menyeluruh dan berkesinambungan maka akan
mendapatkan hasil yang maksimal.
BAB
III
METODOLOGI PENELITIAN
1. Jenis Penelitian dan Lokasi
Jenis Penelitian
ini adalah deskriptif
Lokasi Penelitian
di Kabupaten Banjarnegara
2.Variabel Penelitian
Dalam penelitian
ini variabel yang di teliti adalah :
1.
Olahraga prestasi
2.
Faktor pendukung olahraga prestasi
adalah
a.
Kondisi sumber daya manusia (pelatih,
atlet dan pengurus cabang olahraga) di kabupaten
b.
Kondisi sarana-prasarana olahraga
c.
Kebijakan pemerintah daerah
d.
Kinerja organisasi
3. Definisi operasional variabel pada penelitian ini adalah :
1.
Olahraga prestasi adalah suatu cabang
olahraga yang dibina secara continyu dan sistimatis
2.
Faktor pendukung olahraga prestasi
adalah
a. Sumber daya manusia olahraga adalah kondisi kualitas atlet dan pelatih.
b. Sarana dan prasarana olahraga ialah fasilitas atau alat yang di perlukan
untuk penilaian mengenai ketersediaan, kelayakan, kelengkapan, keterjangkauan,
keefektifitasan stadion olahraga, gedungh olahraga, lapangan olahraga, kolam
renang dan lain-lain.
c. Kebijakan pemerintah kabupaten adalah Suatu keputusan yang di
keluarkan oleh pemerintah dalam mendukung upaya peningkatan prestasi olahraga
di daerah dengan adanya cabang olahraga prioritas dan tersedianya dana
dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten untuk membiayai
pengembangan cabang olahraga yang di pertandingkan pada pekan olahraga provinsi
tahun 2017 di Kabupaten Tegal.
d. Kinerja organisasi adalah suatu bentuk kerjasama dalam sistem mengenai
pekerjaan yang dirumuskan dengan cara efisien dan efektif dalam membangun organisasi.
Organisasi adalah institusi yang melakukan perencanaan, rekruitmen dan
pengembangan sumber daya manusia
4. Objek/Sasaran dan Informan Penelitian
1. Objek/Sasaran
Objek penelitian ini adalah potensi pembinaan
olahraga prestasi yang ada di daerah kabupaten Banjarnegara. Dalam rangka
pengembangan pembinaan olahraga prestasi di kabupaten Banjarnegara, meliputi
beberapa faktor pendukung sarana dan prasarana, sumber daya manusia terdiri
dari atlet, pelatih, guru, olahraga, wasit dan pengurus organisasi keolahragaan
serta kinerja organisasi dan kebijakan pemerintah dalam hal pendanaan.
2. Informan
Informan penelitian adalah pejabat pada tingkat
daerah yang terlibat langsung dalam pembinaan olahraga. Koentjaraningrat (1997)
menyatakan bahwa istilah informan digunakan dalam penelitian ini karena orang
yang memberi keterangan mempunyai pengetahuan luas mengenai situasi di
lapangan. Maka yang menjadi sasaran adalah pejabat dinas pendidikan, pengurus
KONIDA, guru olahraga, atlet wasit, pelatih. Tokoh masyarakat, tokoh olahraga
serta orang-orang yang berkompeten atau terlibat langsung dalam pembinaan
olahraga, dalam hal ini mereka dapat memberikan informasi atau data mengenai
potensi-potensi yang dimiliki daerah.
5. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data sehubungan dengan variabel
dalam penelitian ini. Maka digunakan teknik-teknik pengumpulan data sebagai
berikut:
1. Angket
a.
Angket sarana dan prasarana
Angket sarana dan prasarana digunakan untuk
mengetahui jumlah sarana olahraga, sarana dan prasarana daerah, nasional dan
internasional, sarana dan prasarana yang tidak layak digunakan karena alasan
rusak, peralatan-peralatan berat olahraga, gedung olahraga (hall) kolam renang,
kondisi alam.
b.
Angket atlet
Angket atlet digunakan untuk memperoleh data
tentang penjaringan atlet, jumlah atlet umum dan pelajar daerah, atlet
nasional, atlet internasional masing-masing cabang olahraga, dan prestasi yang
sudah dicapai pada masing-masing cabang olahraga selama lima tahun terakhir.
c. Angket wasit
Angket wasit digunakan untuk memperoleh data
tentang jumlah wasit pada masing-masing cabang olehraga, kursus yang pernah
diikuti, kualifikasi wasit serta prestasi pada masing-masing cabang olahraga
yang bersangkutan serta keterlibatan dalam pembinaan olahraga serta jumlah
wasit yang aktif tetapi belum mempunyai sertifikat.
d. Angket Pelatih
Angket pelatih digunakan untuk mengetahui jumlah
pelatih daerah nasional dan internasional, kualifikasi, kursus kepelatihan,
prestasi pelatih yang pernah dicapai pada masing-masing cabang olaraga yang
bersangkutan dan pelatih belum mempunyai sertifikat.
e. Angket guru olahraga
Angket guru olahraga digunakan untuk memperoleh
data tentang jumlah sekolah, jumlah guru olahraga, guru mengajar pendidikan
jasmani bukan jurusan olahraga, pendidikan terakhir guru penjaskes dan
keterlibatan dalam pembinaan olahraga, jumlah sekolah yang aktif kegiatan
ektrkurikuler olahraga.
f. Angket kinerja organisasi
Angket kinerja organisasi digunakan mengetahui
cabang olahraga yang dikembangkan dan dibina, mempunyai organisasi atau tidak.
Jumlah klub yang aktif pada masing-masing induk organisasi yang ada di setiap
kecamatan. Cabang olahraga/klub yang dibina dalam KONIDA, swasta dan
masyarakat. Olahraga yang berkembang namun pengurusnya belum dilantik, olahraga
yang berkembang namun kurang peminatnya, olahraga yang banyak diminati para
pelajar dan msayarakat umum. Pada angket ini juga untuk memperoleh data tentang
atlet yang sering dikirim untuk mengikuti pertandingan, induk organisasi yang
sering mengadakan kejuaraan dan kejuaran antar apa yang sering diadakan serta
data tentang peringkat percabang cabang olahraga.
g. Angket dana
Angket dana digunakan untuk memperoleh data
tentang sumber-sumber pendanaan terhadap
pembinaan olahraga, berapa kali diberikan bantuan, dalam bentuk apapun bantuan
itu diberikan, perhatian pemerintah tentang atlet yang berprestasi
tingkat daerah, nasional dan tingkat internasional, serta jumlah cabang
olahraga yang didanai langsung dari pemerintah, perusahaan, KONI, BUMN, dan
swadaya masyarakat.
h. Angket pemerintah
Angket yang
digunakan untuk memperoleh data tentang sampai sejauh mana kebijakan pemerintah
dalam pembinaan olahraga prestasi di kabupaten Pinrang
2. Wawancara
Teknik wawancara digunakan untuk memperoleh data
atau keterangan secara lisan dari seseorang sebagai pelengkap tentang kinerja
organisasi, sumber daya manusia dan sistem pembinaan olahraga prestasi yang
dikembangkan pada daerah tersebut. Olahraga yang ingin dikembangkan pada daerah
tersebut. Olahraga tradisional yang banyak diminati masyarakat. Pada penelitian
ini wawancara dilakukan terhadap tokoh masyarakat, unsur pemerintah dan
pengurus KONI daerah.
3. Dokumentasi
Teknik dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan atau memuat data tentang
sarana dan prasarana, hasil perolehan medali masing-masing daerah pada cabang
olahraga yang pernah dicapai atlet dalam PORPROV. Teknik dokumentasi ini juga
melihat prestasi yang pernah dicapai oleh daerah maupun nasional.
4. Observasi
Teknik pengumpulan data dengan observasi adalah
mengamati peristiwa atau situasi yang terjadi oleh calon peneliti. Hal ini
ditujukan untuk mengamati secara langsung sarana dan prasarana, kondisi
geografis, kebiasaan atau kegiatan alami yang dilakukan umumnya penduduk
setempat yang memungkinkan ditransfer ke dalam suatu cabang olahraga.
Daftar
Pustaka
https://www.scribd.com/doc/98533121/Proposal-Tesis-Olahraga-Analisis-Strategi-Potensi-Pembinaan-Olahraga-Prestasi-Di-Daerah-Dalam-Menyongsong-Pekan-Olahraga-Daerah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar