BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Kewirausahaan
(entrepreneurship) adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar,
kiat, dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses. Sesuatu yang baru
dan berbeda adalah nilai tambah barang dan jasa yang menjadi sumber keuanggulan
untuk dijadikan peluang. Jadi, kewirausahaan merupakan suatu kemampuan dalam
menciptakan nilai tambah di pasar melalui proses pengelolaan sumber daya dengan
cara-cara baru dan berbeda.
Didalam
bidang olahraga pun banyak jenisyang dapat dijadikan untuk untuk berwirausaha, bahkan peluangya pun
terbuka lebar bagi siapapun yang mau menekuni bidak tersebut. Misalnya dalah
dibidang barang yang bersangkutan dengan olahraga dan juga jasa yang
bersangkutan dengan olahraga. Pada makalah ini dijelasakan tentang
kewirausahawan dibidang jasa dalam olahraga.
Wasit dan
perwasitan merupakan salah satu contoh dari wirausaha dibidang jasa dalam
olahraga. Peran dan peluang wasit khususnya di Indonesia sangatlah penting dan
masih sangat terbuka lebar. Wasit jiga sangat berperan dan mendukung prestasi
para atlit. Seorang wasit dituntut harus jujur, berpegang teguh pada pendirian,
sportif, dan adil.
Berbicara tentang pertandingan maupun permainan olahraga maka salah satu
yang menjadi bagian di dalamnya adalah wasit. Wasit memiliki peranan yang
sangat penting dalam suatu pertandingan atau permainan olahraga, apalagi
olahraga yang menuju prestasi. Tentu saja wasit bukan penentu utama dari
pentandingan olahraga. Banyak faktor yang mempengaruhi diantaranya pemain,
pelatih, lapangan, penonton menjadi bagian dari penentu hasil pertandingan.
Sebagai suatu bagian yang sangat penting,
seorang wasit diharapkan akan menjalankan fungsinya secara baik dan
benar dengan selalu menjunjung tinggi rasa keadilan dan tanggung jawab
terhadap terselenggarakannya pertandingan. Kesukaran yang muncul
di lapangan tidak saja disebabkan oleh barangkali kurang
dikuasainya ‘medan’ lapangan, melainkan juga faktor-faktor eksternal yang
mendukungnya. Dari sejumlah pengalaman pertandingan, tidak jarang wasit
dijadikan biang kebrutalan dan ketidakpuasan baik yang dilakukan
oleh pemain, ofisial, maupun penonton. Hal ini kiranya
bukan menjadi suatu kendala kemajuan dalam perwasitan,
melainkan lebih menjadikan suatu tantangan yang perlu dihadapi
oleh wasit dalam menegakkan otoritas dan kredibilitasnya.
Agar wasit bisa menjalankan tugas dan fungsinya, maka ia pun perlu memiliki
sifat-sifat seorang pemimpin. Selain itu, wasit sebagai
pemimpin pertandingan hendaknya juga mengenal kepribadiannya.
Kepribadian wasit merupakan modal yang sangat utama. Dari
kapasitas ini memiliki modal dasar yang perlu untuk menjalankan fungsi
dan tugasnya di lapangan.
Wasit
dan perwasitan tercipta seiring dengan perkembangan pengetahuan olahraga
permainan, dari zaman satu ke zaman yang lainnya. Sekarang ini di Indonesia masih minim sekali
wasit yang berlisensi, bahkan didewasa ini masih jarang instansi-instansi
terkait yang mengadakan penataran perwasitan guna menciptakan wasit yang
profesional maka dari itu penulis akan membuat makalah yang berkaitan dengan
wirausaha dibidang perwasitan.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan wasit?
2. Bagaimana menjadi seorang wasit yang ideal?
3. Apa perlu seorang wasit
memiliki sifat pemimpin?
4.
Apa hambatan yang sering dihadapi wasit?
5. Bagaimana
faktor keberhasilahan menjadi wasit?
6. Bagaimana
fakor kegagalan menjadi wasit?
C. Tujuan
Penulisan
1.
Untuk mengetahui apa yang dimaksud
wasit
2. Untuk mengetahui bagaimana
menjadi wasit yang ideal
3. Untuk mengetahui apakah seorang wasit
memiliki sifat-sifat seorang pemimpin
4. Mengetahui
hambatan yang dihadapi wasit.
5. Mengetahui
faktor keberhasilan wasit.
6. Mengetahui
faktor kegalan dari wasit.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Wasit
Wasit adalah seorang yang memiliki wewenang untuk mengatur jalannya suatu
pertandingan olahraga. Wasit memiliki hak penuh selama pertandingan kepada
seluruh pemain dan pelatih dan ofisial sebuah tim. Ada bermacam-macam
istilah wasit. Dalam bahasa Inggris dikenal referee, umpire, judge atau
linesman. Wasit dituntut agar selalu tegas, adil, disegani, dan ditakuti oleh
semua pemain dan official. Ia harus pandai, cerdik, dan tidak memihak pada
salah satu tim atau pemain tertentu. Oleh karena itu, wasit harus menguasai
teknik-teknik perwasitan dan peraturan pertandingan dengan sempurna. Seperti
pemimpin pada umumnya penampilan wasit sangat menentukan ketika ia berada di
lapangan, wasit harus tampak berwibawa dan memiliki kharisma.
Tugas pokok seorang wasit adalah memimpin suatu pertandingan agar pertandingan
itu berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan. Sebenarnya wasit adalah seorang
pemimpin yang mampu mempengaruhi orang yang dipimpinnya agar mau berusaha untuk
memperlancar pertandingan. Agar wasit dapat melaksanakan hal itu maka ia harus
memenuhi peraturan perwasitan yaitu:
Ø Bakat
Menurut J.W. Bunn, perwasitan itu adalah suatu seni. Pribadi yang dapat
mengembangkan seni dari potensi dirinya diharapkan menjadi wasit yang baik.
Selain itu memerlukan bakat sehingga perwasitan juga memerlukan bakat.
Ø Kemauan
Kemauan untuk menjadi wasit yang baik adalah modal utama dalam mengembangkan
kemampuan mewasiti. Dengan adanya kemauan yang besar akan mendorong seorang
untuk belajar mencari pengalaman dan berlatih.
Ø Kesegaran
jasmani dan sehat
Seorang wasit yang mempunyai kesegaran jasmani baik akan mampu menjalankan
tugasnya sebagai wasit yang baik artinya tanpa gangguan jasmaniah orang yang
sehat berarti bebas dari penyakit. Agar wasit tetap sehat sebaiknya ia selalu
melakukan latihan-latihan fisik.
Ø Kewibawaan
Wasit adalah seorang pemimpin. Agar sukses dalam memimpin seorang pemimpin
harus mempunyai wibawa. Kewibawaan wasit dapat diperoleh antara lain dengan:
1. Kepribadian
wasit yang baik
2. Sikap
perwujudan yang baik
3. Cara
berpakaian yang sopan dan sesuai dengan situasi
4. Klasifikasi
perwasitan tinggi
5. Banyak
pengalaman
6. Kecakapan
wasit yang baik.
Ø Pemusatan
Perhatian
Selama bertugas wasit harus mampu memusatkan perhatian kepada tugas yang sedang
diembannya. Seorang wasit juga harus mampu menguasai peraturan permainan dan
peraturan pertandingan. Jadi sebelum terjun memimpin pertandingan seoreng wasit
harus benar-benar menguasai teori perwasitan sebagai bekal untuk kemantapan
batin didalam menjalankan tugasnya.
a.
Untuk bias menjadi seorang wasit yang
memimpin suatu pertandingan maka seorang wasit dan pembantu-pembantunya
(assisten) harus memiliki persyaratan tertentu yaitu: Memahami dan
menguasai peraturan permainan dan pertandingan (suatu cabang olahraga) secara
menyeluruh
b.
Mengerti dam memahami tentang teknik dan
taktik olahraga yang mereka tekuni
c.
Memiliki sikap kepribadian dan mental
yang baik
d.
Bertindak cepat, tegas, adil dan
bijaksana
e.
Memiliki kesegaran jasmani yang tinggi.
B. Menjadi
Wasit yang Ideal
Untuk menjadi wasit yang baik, maka ada beberapa syarat
yang perlu dipenuhi, yaitu: syarat-syarat formal dan
syarat-syarat psikologis.
1.
Syarat-syarat Formal. Yaitu syarat yang
harus dipenuhi untuk menjadi seorang wasit. Syarat-syarat ini
sudah ditentukan dalam aturan yang telah ditetapkan oleh masing-masing
induk organisasi olahraga baik nasional maupun internasional.
2.
Syarat-syarat Psikologis. Yaitu
syarat-syarat khusus yang mencerminkan kemampuan, kepribadian
dan cara kerja wasit yang akan bermanfaat di dalam melakukan
kepemimpinannya di lapangan. Syarat-syarat ini hendaknya
sudah dimiliki wasit dan dapat digunakan sebagai modal
untuk menjadi wasit yang ideal.
Adapun
syarat-syarat dasar psikologis tersebut antara lain :
1.
Mempunyai intelegensi
umum yang cukup baik. Intelegensi menyangkut
kemampuan dasar yang dimiliki oleh seorang wasit. Kemampuan
itu menyangkut kemampuan dalam memahami, menganalisa dan mensintesa
suatu persoalan, kemampuan antisipasi gerakan, dan kemampuan bahasa yang
cukup baik verbal maupun isyarat.
2.
Mempunyai hasrat berprestasi yang baik.
Seorang wasit yang ideal dituntut untuk selalu memiliki motivasi untuk
berprestasi secara memadai. Prestasi seorang wasit tidak saja dilihat
dari strata ijasah wasitnya, melainkan dilihat dari keberhasilan
dalam setiap memimpin pertandingan dan upaya untuk selalu
bisa menjalankan fungsi dan tugasnya di lapangan maupun di luar lapangan.
3.
Memiliki kematangan kepribadian.
Seorang pribadi wasit yang matang tidak saja dilihat dari
stabilitas emosionalnya, melainkan juga dari integritas perilaku dan
perbuatannya.
4.
Memiliki penyesuain diri yang baik.
Menyesuaikan diri dengan situasi pertandingan merupakan modal yang
penting bagi seorang wasit. Dengan kemampuan penyesuain diri ini, seorang
wasit akan dengan mudah mengatasi persoalan persoalan yang muncul
di lapangan.
5.
Memiliki kepercayaan diri. Kepercayaan
diri menyangkut persepsi akan kemampuan diri dalam mengatasi
semua persoalan yang ada. Keragu-raguan adalah bibit dari rusaknya keputusan
yang diambil dari seorang wasit. Kepercayaan diri seorang
wasit bisa berfluktuasi, dari sangat percaya diri hingga kurang
percaya diri. Pengalaman pertandingan memiliki peran yang cukup
penting di dalam membentuk kepercayaan diri di samping wasit
tersebut memang sudah memiliki dasar-dasar psikologis yang
baik dalam aspek ini.
6.
Teliti. Ketelitian kerja bisa
menjadikan keputusan akurat. Oleh karena itu seorang wasit yang memiliti
dasar-dasar teliti diharapkan juga bisa teliti pula di dalam melihat
persoalan dan dalam melakukan pengambilan keputusan.
7.
Cukup kreatif. Wasit perlu
kreatif, guna membawa situasi pertandingan enak ditonton. Di dalam suatu
pertandingan muncul kecenderungan iramanya menurun dan ada dalam tempo yang
tinggi. Bila muncul kejadian seperti itu, wasit perlu untuk lebih kreatif
dalam mengarahkan ritme pertandingan. Kreativitas wasit juga bermanfaat
untuk mengembangkan berbagai macam keputusannya dan caranya untuk
berkomunikasi dengan pemain.
8.
Memiliki kemampuan dalam mengambil
keputusan. Mengambil keputusan, menurut Wayne Weiton (1992) meliputi
kegiatan mengevaluasi lternatif dan membuat pilihan terhadap
alternatif-alternatif itu. Dengan demikian ada seorang wasit dituntut
untuk mengevaluasi alternatif dan memilih alternatif itu berdasarkan
informasi yang dilihat dan diperolehnya dari hakim garisnya. Modal
ini merupakan salah satu syarat yang sangat penting sekali
bagi seorang wasit.
9.
Memiliki dasar kepemimpinan yang
baik. Stogdil (1950) yang dikutip oleh Richard H. Cox (1985) menyatakan bahwa
kepemimpinan adalah proses untuk mempengaruhi aktivitas suatu
kelompok yang terorganisasi dalam upayanya untuk mencapai tujuan yang
telah direncanakan dan tujuan yang ingin dicapai. Dari pengertian itu
wasit memiliki peran didalam mengorganisir aktivitas pelatih khususnya di
dalam mengarahkan berhasil dan lancarnya jalannya pertandingan.
Meskipun wasit merupakan diktator di lapangan, namun
bila hal itu dijalalankan dalam pertandingan, maka ia tidak saja
akan dimusuhi oleh tidak tim-tim yang bertanding, melainkan
juga suporter yang menonton pertandingan.
C. Wasit Sebagai
Seorang Pemimpin
Ada beberapa faktor penting yang harus dimiliki seorang wasit sebagai seorang
pemimpin: (a) confident (percaya diri); (b) tegas dan adil; (c) idealisme
(berpijak pada nilai standar ideal); (d) tanggung jawab tinggi (e) egaliter;
(f) caring/tidak selfish (lebih mengutamakan kepentingan umum); (g) dignified
(bermartabat).
a. Confident (percaya diri)
Inilah syarat mutlak pertama yang mesti
dimiliki siapapun yang ingin jadi wasit. Jangan berharap dan bermimpi jadi
wasit kalau tidak percaya diri. Ciri pribadi wasit percaya diri adalah: Selalu
menganggap setiap pemain/atlit/official sejajar dengan dirinya, tidak lebih
tinggi dan tidak lebih rendah. Tidak menunduk atau mengangkat kepala, apapun
status orang yang dihadapi: supporter/pendukung yang fanatik, manager kaya, tim
besar, pemain elite, atau pemain yang biasa.
b. Tegas dan adil
Menjadi wasit yang tegas dan adil memang
penuh resiko. Resiko dimusuhi, dicurigai dan bahkan menjadi sasaran
kemarahan. Tetapi kualitas kepemimpinan wasit dalam pertandingan
olahraga. Wasit yang adil dan tegas sangat dibutuhkan, jika tidak ada,
maka pertandingan akan berlangsung timpang dan bisa memicu anarki. Anarki
artinya tidak ada pengaturan. Dengan kata lain, tidak ada lagi yang bisa
dipercayai untuk membuat keputusan-keputusan di dalam pertandingan.
c.
Idealisme
Wasit sebagai seorang pemimpin yang baik dan memiliki
kepribadian kuat selalu bersikap idealis. Dia tidak akan kompromi pada
nilai-nilai idealisme yang prinsip; tapi rela bersikap kompromistis, elastis
atau pragmatis pada hal-hal yang tidak prinsipil. Fair Play adalah sebuah
idealisme. Wasit adalah sebuah instrument pendukungnya dan manusia adalah
individu-individunya.
d. Tanggung Jawab
Salah satu hal yang membuat induk
organisasi olahraga memilih wasit utuk memimpin suatu pertandingan
adalah karena kita dinilai memiliki tanggung jawab. Tanggung jawab itu
identik/intrinsik/koheren dengan sikap konsisten dalam ucapan dan perilaku.
Tanggung jawab juga berkaitan erat dengan sikap semangat yang stabil dari awal
tugas sampai akhir. Dan akan selalu melakukan dan menyelesaikan tugas yang
diemban dengang penuh dedikasi, tanpa peduli tugasnya mendapat apresiasi atau
kritikan bahkan makian.
e. Caring/Tidak Selfish atau Egois
Seorang wasit dalam pengambilan keputusan
tidak egois, berusaha mengkomunikasikan dan memerlukan bantuan asisisten
wasit/pembantu wasit dalam mengambil suatu keputusan. Sehingga keputusan memang
benar-benar sesuai dengan peristiwa/kejadian yang terjadi.
f. Dignified (bermartabat)
Seorang wasit itu simbol yangg mewakili
institusi dan seluruh anggotanya. Citra baik atau buruk seorang wasit akan
mempengaruhi citra institusi dan anggotanya.
D. Hambatan yang Dihadapi Wasit
Menjadi wasit bukan berarti
boleh memutuskan tindakan yang diinginkan. Akan tetapi harus berpedoman pada
aturan yang berlaku. Didalam pelaksanaannya, menjadi wasit tidak semudah yang terlihat
didalam suatu pertandingan yang sedang berlangsung. Ada juga hambatan yang
sering dihadapi oleh seorang wasit. Diantaranya yaitu apabila wasit salah
mengambil keputusan, maka kemungkinan besar yang akan terjadi adalah cemooh
dari salah satu suporter tim.
E. Faktor
Keberhasilan Wasit
Faktor faktor yang
mempengaruhi keberhasilan wasit:
1.
Faktor internal
Faktor yang berasal dari dalam, meliputi; pengetahuan tentang ilmu
perwasitan dan pengalaman.
2. Faktor eksternal
Faktor yang berasal dari luar, meliputi; dorongan atau motifasi yang
diberikan orang dan bagusnya hubungan kerjasama antara beberapa pihak baik dari
tim, panitia penyelenggara, dan juga suporter tim.
F.
Faktor Kegagalan Wasit
Wasit dikataka gagal apabila dalam
memimpin suatu pertandingan tidak barjalan lancar. Hal ini bisa terjadi apbila
seorang wasit tidak dibekali oleh pengetahuan, keberanian, dan juga pengalaman.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kewirausahaan (entrepreneurship) adalah kemampuan
kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat, dan sumber daya untuk mencari
peluang menuju sukses. Sesuatu yang baru dan berbeda adalah nilai tambah barang
dan jasa yang menjadi sumber keuanggulan untuk dijadikan peluang. Jadi,
kewirausahaan merupakan suatu kemampuan dalam menciptakan nilai tambah di pasar
melalui proses pengelolaan sumber daya dengan cara-cara baru dan berbeda.
Di Indonesia, kewirausahaan dipelajari baru terbatas
pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja. Sejalan dengan
perkembangan dan tantangan seperti adanya krisis ekonomi, pemahaman
kewirausahaan
Wasit sebagai pemimpin petandingan olahraga harus memiliki sifat kepemimpinan.
Wasit dituntut agar berwibawa, disegani, dan ditakuti oleh semua pemain dan
official. Seorang wasit harus pandai, cerdik, dan tidak memihak pada salah satu
tim atau pemain tertentu. Akan tetapi faktor-faktor eksternal disetiap
pertandingan mempengaruhi psokologis seorang wasit sehingga keputusan yang
diambil kadang tidak tepat dan berakibat buruk. Wasit dituntut untuk memiliki
kemampuan intelegensia yang baik, kemauan berprestasi, kematangan diri, teliti,
sehingga dapat menganalisa suatu kejadian dalam suatu pertandingan dan
tepat dalam mengambil keputusan.
Disamping percaya diri, seorang wasit harus berperilaku tegas, adil, idealisme,
tanggung jawab, egaliter, tidak egois, dan bermartabat. Dengan sifat dan
karakter tersebut, maka wasit akan mampu memimpin suatu pertandingan dengan
baik.
Di Indonesia sendiri banyak sekali
cabang olahraga yang biasa dipertandingkan, dan pastinya banyak membutuhkan
wasit/hakim dalam suatu pertandingan. Dalam kesempatan ini peluang yang
tercipta untuk menekuni bidang perwasitan sangat terbuka lebar.
DAFTAR PUSTAKA
http://zainimarigaanakgayo.blogspot.co.id/2015/12/makalah-perwasitan.html
Moh. Gilang.
2007. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesahatan Untuk SMA XII.
Moh. Zein. 2009. Sepakbola
Indonesia Bermain dalam Aturan. PSSI
Muhajir. 2004. Pendidikan
Jasmani Teori dan Praktik. Jakarta Erlangga
Fakultas Ilmu
Keolahragaan Olahraga. UNY. Olahraga (Majalah Ilmiah).2000
Tidak ada komentar:
Posting Komentar