Rabu, 15 Maret 2017

makalah kewirausahaan perwasitan

BAB I
PENDAHULUAN

A.        Latar Belakang Masalah
Kewirausahaan (entrepreneurship) adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat, dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses. Sesuatu yang baru dan berbeda adalah nilai tambah barang dan jasa yang menjadi sumber keuanggulan untuk dijadikan peluang. Jadi, kewirausahaan merupakan suatu kemampuan dalam menciptakan nilai tambah di pasar melalui proses pengelolaan sumber daya dengan cara-cara baru dan berbeda.
Didalam bidang olahraga pun banyak jenisyang dapat dijadikan untuk  untuk berwirausaha, bahkan peluangya pun terbuka lebar bagi siapapun yang mau menekuni bidak tersebut. Misalnya dalah dibidang barang yang bersangkutan dengan olahraga dan juga jasa yang bersangkutan dengan olahraga. Pada makalah ini dijelasakan tentang kewirausahawan dibidang jasa dalam olahraga.
Wasit dan perwasitan merupakan salah satu contoh dari wirausaha dibidang jasa dalam olahraga. Peran dan peluang wasit khususnya di Indonesia sangatlah penting dan masih sangat terbuka lebar. Wasit jiga sangat berperan dan mendukung prestasi para atlit. Seorang wasit dituntut harus jujur, berpegang teguh pada pendirian, sportif, dan adil.
Berbicara tentang pertandingan maupun permainan olahraga maka salah satu yang menjadi bagian di dalamnya adalah wasit. Wasit memiliki peranan yang sangat penting dalam suatu pertandingan atau permainan olahraga, apalagi olahraga yang menuju prestasi. Tentu saja wasit bukan penentu utama dari pentandingan olahraga. Banyak faktor yang mempengaruhi diantaranya pemain, pelatih, lapangan, penonton menjadi bagian dari penentu hasil pertandingan.
Sebagai   suatu  bagian  yang sangat penting, seorang  wasit diharapkan akan menjalankan fungsinya secara baik  dan benar dengan selalu menjunjung tinggi  rasa keadilan dan tanggung jawab terhadap  terse­lenggarakannya pertandingan. Kesukaran yang muncul di  lapan­gan  tidak saja disebabkan oleh  barangkali kurang dikuasainya ‘medan’ lapangan, melain­kan juga faktor-faktor eksternal yang mendu­kungnya. Dari sejumlah pengalaman pertandingan, tidak jarang wasit dijadikan biang kebruta­lan  dan ketidakpuasan baik  yang dilakukan oleh  pemain, ofisial, maupun penonton.  Hal ini kiranya  bukan  menjadi  suatu  kendala kemajuan dalam perwasitan, melainkan  lebih menjadikan suatu tantangan yang perlu diha­dapi  oleh wasit dalam menegakkan  otoritas dan kredibilitasnya.

Agar wasit bisa menjalankan tugas dan fungsinya, maka ia pun perlu memiliki sifat-sifat seorang pemimpin. Selain  itu,  wasit  sebagai  pemimpin pertandingan hendaknya juga mengenal  kepri­badiannya. Kepribadian wasit merupakan modal yang  sangat  utama. Dari kapasitas  ini memiliki modal dasar yang perlu untuk menja­lankan fungsi dan tugasnya di lapangan. 

Wasit dan perwasitan tercipta seiring  dengan perkembangan pengetahuan olahraga permainan, dari zaman satu ke zaman yang lainnya.  Sekarang ini di Indonesia masih minim sekali wasit yang berlisensi, bahkan didewasa ini masih jarang instansi-instansi terkait yang mengadakan penataran perwasitan guna menciptakan wasit yang profesional maka dari itu penulis akan membuat makalah yang berkaitan dengan wirausaha dibidang perwasitan.

   B.     Rumusan Masalah
1.   Apa yang dimaksud dengan wasit?
2.   Bagaimana menjadi seorang wasit yang ideal?
3.   Apa perlu seorang wasit memiliki sifat pemimpin?
4.      Apa hambatan yang sering dihadapi wasit?
5.      Bagaimana faktor keberhasilahan menjadi wasit?
6.      Bagaimana fakor kegagalan menjadi wasit?

 
 C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud  wasit
2.   Untuk mengetahui bagaimana menjadi wasit yang ideal
3. Untuk mengetahui apakah seorang wasit memiliki sifat-sifat seorang pemimpin
4.      Mengetahui hambatan yang dihadapi wasit.
5.      Mengetahui faktor keberhasilan wasit.
6.      Mengetahui faktor kegalan dari wasit.























BAB II
PEMBAHASAN
   A.    Pengertian Wasit
            Wasit adalah seorang yang memiliki wewenang untuk mengatur jalannya suatu pertandingan olahraga. Wasit memiliki hak penuh selama pertandingan kepada seluruh pemain dan pelatih dan ofisial sebuah tim.  Ada bermacam-macam istilah wasit. Dalam bahasa Inggris dikenal referee, umpire, judge atau linesman. Wasit dituntut agar selalu tegas, adil, disegani, dan ditakuti oleh semua pemain dan official. Ia harus pandai, cerdik, dan tidak memihak pada salah satu tim atau pemain tertentu. Oleh karena itu, wasit harus menguasai teknik-teknik perwasitan dan peraturan pertandingan dengan sempurna. Seperti pemimpin pada umumnya penampilan wasit sangat menentukan ketika ia berada di lapangan, wasit harus tampak berwibawa dan memiliki kharisma.
            Tugas pokok seorang wasit adalah memimpin suatu pertandingan agar pertandingan itu berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan. Sebenarnya wasit adalah seorang pemimpin yang mampu mempengaruhi orang yang dipimpinnya agar mau berusaha untuk memperlancar pertandingan. Agar wasit dapat melaksanakan hal itu maka ia harus memenuhi peraturan perwasitan yaitu:
      Ø  Bakat
            Menurut J.W. Bunn, perwasitan itu adalah suatu seni. Pribadi yang dapat mengembangkan seni dari potensi dirinya diharapkan menjadi wasit yang baik. Selain itu memerlukan bakat sehingga perwasitan juga memerlukan bakat.
      Ø  Kemauan
            Kemauan untuk menjadi wasit yang baik adalah modal utama dalam mengembangkan kemampuan mewasiti. Dengan adanya kemauan yang besar akan mendorong seorang untuk belajar mencari pengalaman dan berlatih.
      Ø  Kesegaran jasmani dan sehat
            Seorang wasit yang mempunyai kesegaran jasmani baik akan mampu menjalankan tugasnya sebagai wasit yang baik artinya tanpa gangguan jasmaniah orang yang sehat berarti bebas dari penyakit. Agar wasit tetap sehat sebaiknya ia selalu melakukan latihan-latihan fisik.
      Ø  Kewibawaan
            Wasit adalah seorang pemimpin. Agar sukses dalam memimpin seorang pemimpin harus mempunyai wibawa. Kewibawaan wasit dapat diperoleh antara lain dengan:
1.      Kepribadian wasit yang baik
2.      Sikap perwujudan yang baik
3.      Cara berpakaian yang sopan dan sesuai dengan situasi
4.      Klasifikasi perwasitan tinggi
5.      Banyak pengalaman
6.      Kecakapan wasit yang baik.

      Ø  Pemusatan Perhatian
            Selama bertugas wasit harus mampu memusatkan perhatian kepada tugas yang sedang diembannya. Seorang wasit juga harus mampu menguasai peraturan permainan dan peraturan pertandingan. Jadi sebelum terjun memimpin pertandingan seoreng wasit harus benar-benar menguasai teori perwasitan sebagai bekal untuk kemantapan batin didalam menjalankan tugasnya.
a.       Untuk bias menjadi seorang wasit yang memimpin suatu pertandingan maka seorang wasit dan pembantu-pembantunya (assisten) harus memiliki persyaratan tertentu yaitu: Memahami dan menguasai peraturan permainan dan pertandingan (suatu cabang olahraga) secara menyeluruh
b.      Mengerti dam memahami tentang teknik dan taktik olahraga yang mereka tekuni
c.       Memiliki sikap kepribadian dan mental yang baik
d.      Bertindak cepat, tegas, adil dan bijaksana
e.       Memiliki kesegaran jasmani yang tinggi.

   B.     Menjadi Wasit yang Ideal
            Untuk  menjadi wasit yang  baik,  maka ada  beberapa syarat yang  perlu  dipenuhi, yaitu:  syarat-syarat formal dan  syarat-syarat psikologis.
1.      Syarat-syarat Formal. Yaitu syarat yang harus  dipenuhi  untuk menjadi seorang wasit. Syarat-syarat  ini sudah ditentukan dalam aturan yang  telah ditetapkan  oleh masing-masing induk organisasi olahraga baik nasional maupun internasional.
2.      Syarat-syarat Psikologis. Yaitu  syarat-syarat khusus yang mencer­minkan  kemampuan, kepribadian  dan  cara kerja wasit yang akan bermanfaat di dalam melakukan kepemimpinannya  di lapangan. Syarat-syarat  ini hendaknya sudah  dimi­liki  wasit dan dapat  digunakan  sebagai modal untuk menjadi wasit yang ideal.
Adapun  syarat-syarat  dasar  psikologis tersebut antara lain :
1.      Mempunyai  intelegensi  umum  yang  cukup baik.  Intelegensi menyangkut  kemampuan  dasar yang dimiliki oleh seorang wasit.  Kemam­puan   itu menyangkut kemampuan dalam memahami, menganalisa  dan  mensintesa suatu  persoalan, kemampuan antisipasi gerakan, dan kemampuan bahasa yang cukup baik verbal maupun isyarat.
2.      Mempunyai hasrat berprestasi yang baik. Seorang  wasit yang ideal dituntut untuk selalu memiliki motivasi untuk berpresta­si secara memadai. Prestasi seorang wasit tidak saja  dilihat dari  strata  ijasah wasitnya, melainkan dilihat dari keberhasilan dalam setiap memimpin pertandingan  dan  upaya untuk selalu  bisa menjalankan fungsi dan tugasnya di lapan­gan maupun di luar lapangan.
3.      Memiliki kematangan kepribadian. Seorang  pribadi wasit yang matang  tidak saja dilihat dari stabilitas emosional­nya, melainkan juga dari integritas perilaku dan perbuatannya.
4.      Memiliki penyesuain diri yang baik. Menyesuaikan diri dengan situasi  pertan­dingan merupakan modal yang penting bagi seorang  wasit. Dengan kemampuan penyesuain diri ini, seorang wasit akan  dengan mudah mengatasi persoalan persoalan  yang muncul di lapangan.
5.      Memiliki kepercayaan diri. Kepercayaan diri menyangkut persepsi akan kemampuan diri dalam  mengatasi   semua persoalan yang ada. Keragu-raguan adalah bibit dari rusaknya keputusan yang  diam­bil dari seorang wasit. Kepercayaan  diri  seorang wasit bisa berfluktuasi, dari sangat percaya  diri hingga  kurang percaya  diri. Pengalaman pertandingan memiliki peran  yang cukup penting  di dalam  membentuk kepercayaan diri di samping wasit  tersebut  memang sudah  memiliki  dasar-dasar psikologis yang baik dalam aspek ini.
6.      Teliti. Ketelitian kerja bisa menjadikan  keputu­san akurat. Oleh karena itu seorang wasit yang memiliti dasar-dasar teliti diharap­kan juga bisa teliti pula di dalam meli­hat persoalan dan dalam melakukan pengam­bilan keputusan.
7.      Cukup kreatif.  Wasit perlu kreatif, guna membawa situasi pertandingan enak ditonton. Di dalam suatu pertandingan muncul kecenderungan iramanya menurun dan ada dalam tempo yang tinggi. Bila muncul kejadian seperti itu, wasit perlu untuk lebih  kreatif dalam mengarahkan ritme pertandingan. Kreativi­tas  wasit juga bermanfaat untuk  mengem­bangkan berbagai macam keputusannya dan caranya untuk berkomunikasi dengan pemain.
8.      Memiliki kemampuan dalam mengambil  kepu­tusan. Mengambil keputusan, menurut Wayne Weiton (1992)  meliputi kegiatan mengevaluasi lternatif  dan membuat pilihan terhadap alternatif-alternatif itu. Dengan demikian ada seorang wasit  ditun­tut untuk mengevaluasi  alternatif  dan memilih alternatif itu berdasarkan infor­masi yang dilihat dan diperolehnya  dari hakim garisnya. Modal  ini merupakan salah  satu syarat yang  sangat penting sekali bagi  seorang wasit.
9.       Memiliki dasar kepemimpinan yang baik. Stogdil (1950) yang dikutip oleh Richard H. Cox (1985) menyatakan bahwa kepemimpi­nan  adalah  proses untuk mempengaruhi aktivitas suatu kelompok yang terorganis­asi dalam upayanya untuk mencapai  tujuan yang telah direncanakan dan tujuan yang ingin  dicapai. Dari pengertian itu wasit memiliki peran didalam mengorganisir aktivitas pelatih khususnya  di dalam mengarahkan  berhasil dan lancarnya jalannya pertandingan.  Meskipun  wasit merupakan  diktator   di lapangan, namun bila hal itu dijalalankan dalam  pertandingan, maka ia tidak saja akan  dimusuhi oleh tidak  tim-tim  yang bertanding, melainkan juga suporter  yang menonton pertandingan.

   C.    Wasit Sebagai Seorang Pemimpin
            Ada beberapa faktor penting yang harus dimiliki seorang wasit sebagai seorang pemimpin: (a) confident (percaya diri); (b) tegas dan adil; (c) idealisme (berpijak pada nilai standar ideal); (d) tanggung jawab tinggi (e) egaliter; (f) caring/tidak selfish (lebih mengutamakan kepentingan umum); (g) dignified (bermartabat).
a.      Confident (percaya diri)
Inilah syarat mutlak pertama yang mesti dimiliki siapapun yang ingin jadi wasit. Jangan berharap dan bermimpi jadi wasit kalau tidak percaya diri. Ciri pribadi wasit percaya diri adalah: Selalu menganggap setiap pemain/atlit/official sejajar dengan dirinya, tidak lebih tinggi dan tidak lebih rendah. Tidak menunduk atau mengangkat kepala, apapun status orang yang dihadapi: supporter/pendukung yang fanatik, manager kaya, tim besar, pemain elite, atau pemain yang biasa.

b.      Tegas dan adil
Menjadi wasit yang tegas dan adil memang penuh resiko.  Resiko dimusuhi, dicurigai dan bahkan menjadi sasaran kemarahan.  Tetapi kualitas kepemimpinan wasit dalam pertandingan olahraga.  Wasit yang adil dan tegas sangat dibutuhkan, jika tidak ada, maka pertandingan akan berlangsung timpang dan bisa memicu anarki. Anarki artinya tidak ada pengaturan.  Dengan kata lain, tidak ada lagi yang bisa dipercayai untuk membuat keputusan-keputusan di dalam pertandingan.

c.       Idealisme
Wasit sebagai seorang pemimpin yang baik dan memiliki kepribadian kuat selalu bersikap idealis. Dia tidak akan kompromi pada nilai-nilai idealisme yang prinsip; tapi rela bersikap kompromistis, elastis atau pragmatis pada hal-hal yang tidak prinsipil. Fair Play adalah sebuah idealisme. Wasit adalah sebuah instrument pendukungnya dan manusia adalah individu-individunya.

d.      Tanggung Jawab
Salah satu hal yang membuat induk organisasi olahraga memilih wasit utuk  memimpin  suatu pertandingan adalah karena kita dinilai memiliki tanggung jawab. Tanggung jawab itu identik/intrinsik/koheren dengan sikap konsisten dalam ucapan dan perilaku. Tanggung jawab juga berkaitan erat dengan sikap semangat yang stabil dari awal tugas sampai akhir. Dan akan selalu melakukan dan menyelesaikan tugas yang diemban dengang penuh dedikasi, tanpa peduli tugasnya mendapat apresiasi atau kritikan bahkan makian.

e.       Caring/Tidak Selfish atau Egois
 Seorang wasit dalam pengambilan keputusan tidak egois, berusaha mengkomunikasikan dan memerlukan bantuan asisisten wasit/pembantu wasit dalam mengambil suatu keputusan. Sehingga keputusan memang benar-benar sesuai dengan peristiwa/kejadian yang terjadi.

f.       Dignified (bermartabat)
Seorang wasit itu simbol yangg mewakili institusi dan seluruh anggotanya. Citra baik atau buruk seorang wasit akan mempengaruhi citra institusi dan anggotanya.

D. Hambatan yang Dihadapi Wasit
                        Menjadi wasit bukan berarti boleh memutuskan tindakan yang diinginkan. Akan tetapi harus berpedoman pada aturan yang berlaku. Didalam pelaksanaannya, menjadi wasit tidak semudah yang terlihat didalam suatu pertandingan yang sedang berlangsung. Ada juga hambatan yang sering dihadapi oleh seorang wasit. Diantaranya yaitu apabila wasit salah mengambil keputusan, maka kemungkinan besar yang akan terjadi adalah cemooh dari salah satu suporter tim.



E. Faktor Keberhasilan Wasit
 Faktor faktor yang mempengaruhi keberhasilan wasit:
1. Faktor internal
                 Faktor yang berasal dari dalam, meliputi; pengetahuan tentang ilmu perwasitan dan pengalaman.
            2. Faktor eksternal
                 Faktor yang berasal dari luar, meliputi; dorongan atau motifasi yang diberikan orang dan bagusnya hubungan kerjasama antara beberapa pihak baik dari tim, panitia penyelenggara, dan juga suporter tim.
F. Faktor Kegagalan Wasit
              Wasit dikataka gagal apabila dalam memimpin suatu pertandingan tidak barjalan lancar. Hal ini bisa terjadi apbila seorang wasit tidak dibekali oleh pengetahuan, keberanian, dan juga pengalaman.



















BAB III
PENUTUP

A.        Kesimpulan
Kewirausahaan (entrepreneurship) adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat, dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses. Sesuatu yang baru dan berbeda adalah nilai tambah barang dan jasa yang menjadi sumber keuanggulan untuk dijadikan peluang. Jadi, kewirausahaan merupakan suatu kemampuan dalam menciptakan nilai tambah di pasar melalui proses pengelolaan sumber daya dengan cara-cara baru dan berbeda.
Di Indonesia, kewirausahaan dipelajari baru terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja. Sejalan dengan perkembangan dan tantangan seperti adanya krisis ekonomi, pemahaman kewirausahaan
            Wasit sebagai pemimpin petandingan olahraga harus memiliki sifat kepemimpinan. Wasit dituntut agar berwibawa, disegani, dan ditakuti oleh semua pemain dan official. Seorang wasit harus pandai, cerdik, dan tidak memihak pada salah satu tim atau pemain tertentu. Akan tetapi faktor-faktor eksternal disetiap pertandingan mempengaruhi psokologis seorang wasit sehingga keputusan yang diambil kadang tidak tepat dan berakibat buruk. Wasit dituntut untuk memiliki kemampuan intelegensia yang baik, kemauan berprestasi, kematangan diri, teliti, sehingga dapat menganalisa suatu kejadian dalam suatu pertandingan dan  tepat dalam mengambil keputusan.
             Disamping percaya diri, seorang wasit harus berperilaku tegas, adil, idealisme, tanggung jawab, egaliter, tidak egois, dan bermartabat. Dengan sifat dan karakter tersebut, maka wasit akan mampu memimpin suatu pertandingan dengan baik.
            Di Indonesia sendiri banyak sekali cabang olahraga yang biasa dipertandingkan, dan pastinya banyak membutuhkan wasit/hakim dalam suatu pertandingan. Dalam kesempatan ini peluang yang tercipta untuk menekuni bidang perwasitan sangat terbuka lebar.
DAFTAR PUSTAKA
http://zainimarigaanakgayo.blogspot.co.id/2015/12/makalah-perwasitan.html


Moh. Gilang. 2007. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesahatan Untuk SMA XII.
Moh. Zein. 2009. Sepakbola Indonesia Bermain dalam Aturan. PSSI
Muhajir. 2004. Pendidikan Jasmani Teori dan Praktik. Jakarta Erlangga
Fakultas Ilmu Keolahragaan Olahraga. UNY. Olahraga (Majalah Ilmiah).2000


Kamis, 24 November 2016

UNY CUP

INVITASI NASIONAL UNY CUP


Dalam rangka menjalin persahabatan dan meraih prestasi di bidang olahraga pada kalangan mahasiswa, UNY menyelenggarakan invitasi olahraga nasional antar perguruan tinggi UNY Cup tahun 2016 yang dibuka di Tennis Indoor Barat FIK UNY (11/11). Kegiatan yang akan berlangsung hingga Minggu 13 November 2016 tersebut mempertandingkan 4 cabang olahraga yaitu tenis lapangan, tenis meja, sepak takraw dan bola voli. Sebelumnya telah bertanding cabang olahraga tennis lapangan sejak (7/11), dan cabang olahraga sepak takraw sejak (10/11).Menurut ketua panitia Aris Fajar Pambudi, M.Or cabang yang dipertandingkan adalah bola voli beregu putra dan beregu putri, sepak takraw regu putra, regu putri dan double event putra. Tenis meja mempertandingkan tunggal putra, tunggal putri dan beregu campuran. Sedangkan tenis lapangan mempertandingkan ganda putra, ganda putri serta ganda campuran.Invitasi olahraga ini dibuka oleh Wakil Rektor I UNY Wardan Suyanto, MA., Ed.D dengan pemukulan bola tennis lapangan. Dalam sambutannya Wardan Suyanto, MA., Ed.D mengatakan bahwa kegiatan ini sangat baik untuk silaturahmi dan saling mengenal antar mahasiswa perguruan tinggi agar ke depannya bisa membuat jaringan. “Olahraga tidak untuk menimbulkan perpecahan melainkan untuk meningkatkan persahabatan, disiplin dan sportifitas” katanya. Sehingga kedepan diharapkan bisa meningkatkan prestasi bidang olahraga sehingga tercipta bibit-bibit olahragawan nasional. Selain itu dengan berolahraga juga meningkatkan kebugaran dan kesehatan.UNY Cup diikuti oleh 27 perguruan tinggi dari seluruh nusantara termasuk UNY sebagai tuan rumah. Cabang olahraga bola voli diikuti oleh 13 perguruan tinggi, tenis meja 7 perguruan tinggi, tenis lapangan 11 perguruan tinggi dan sepak takraw 6 perguruan tinggi. Untuk pertandingan bola voli dilaksanakan di GOR UNY, tenis meja di hall tenis meja UNY, tenis lapangan di tennis indoor barat serta sepak takraw di tennis indoor timur UNY. (dedy)

Submitted by humas on Fri, 2016-11-11 13:28


Sumber:https://uny.ac.id/berita/invitasi-olahraga-nasional-antar-perguruan-tinggi.html

INVITASI NASIONAL UNY CUP


Dalam rangka menjalin persahabatan dan meraih prestasi di bidang olahraga pada kalangan mahasiswa, UNY menyelenggarakan invitasi olahraga nasional antar perguruan tinggi UNY Cup tahun 2016 yang dibuka di Tennis Indoor Barat FIK UNY (11/11). Kegiatan yang akan berlangsung hingga Minggu 13 November 2016 tersebut mempertandingkan 4 cabang olahraga yaitu tenis lapangan, tenis meja, sepak takraw dan bola voli. Sebelumnya telah bertanding cabang olahraga tennis lapangan sejak (7/11), dan cabang olahraga sepak takraw sejak (10/11).Menurut ketua panitia Aris Fajar Pambudi, M.Or cabang yang dipertandingkan adalah bola voli beregu putra dan beregu putri, sepak takraw regu putra, regu putri dan double event putra. Tenis meja mempertandingkan tunggal putra, tunggal putri dan beregu campuran. Sedangkan tenis lapangan mempertandingkan ganda putra, ganda putri serta ganda campuran.Invitasi olahraga ini dibuka oleh Wakil Rektor I UNY Wardan Suyanto, MA., Ed.D dengan pemukulan bola tennis lapangan. Dalam sambutannya Wardan Suyanto, MA., Ed.D mengatakan bahwa kegiatan ini sangat baik untuk silaturahmi dan saling mengenal antar mahasiswa perguruan tinggi agar ke depannya bisa membuat jaringan. “Olahraga tidak untuk menimbulkan perpecahan melainkan untuk meningkatkan persahabatan, disiplin dan sportifitas” katanya. Sehingga kedepan diharapkan bisa meningkatkan prestasi bidang olahraga sehingga tercipta bibit-bibit olahragawan nasional. Selain itu dengan berolahraga juga meningkatkan kebugaran dan kesehatan.UNY Cup diikuti oleh 27 perguruan tinggi dari seluruh nusantara termasuk UNY sebagai tuan rumah. Cabang olahraga bola voli diikuti oleh 13 perguruan tinggi, tenis meja 7 perguruan tinggi, tenis lapangan 11 perguruan tinggi dan sepak takraw 6 perguruan tinggi. Untuk pertandingan bola voli dilaksanakan di GOR UNY, tenis meja di hall tenis meja UNY, tenis lapangan di tennis indoor barat serta sepak takraw di tennis indoor timur UNY. (dedy)

Submitted by humas on Fri, 2016-11-11 13:28


Sumber:https://uny.ac.id/berita/invitasi-olahraga-nasional-antar-perguruan-tinggi.html

Sabtu, 24 September 2016

makalah sepak takraw

TUGAS MATA KULIAH SEPAK TAKRAW
TEKNIK DASAR DAN ATURAN BERMAIN SEPAK TAKRAW


 


DISUSUN OLEH :
NUR CAHYONO  ( 14230094)





PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI
FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DAN KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS PGRI SEMARANG
2016/2017

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Sejarah 
Olahraga sepak takraw adalah transformasi dari permainan yang dalam bahasa Melayu disebut Sepak Raga (raga = keranjang), disebut Takraw dalam bahasa Thai, di Filipina disebut Sipa, di Burma disebut Chinlone, di Laos disebut Kator. Catatan sejarah terawal tentang sepak raga terdapat dalam sejarah Melayu. Ketika pemerintahan Sultan Mansur Shah Ibni Almarhum Sultan Muzzaffar Shah (1459 - 1477). 
Pada permainan Sepak Raga para pemain berdiri membentuk lingkaran dan menggunakan bola yang terbuat dari rotan. Transformasi permainan ini terjaidi pada era 1940-an ketika permainan bola keranjang ini mulai menggunakan jaring dan peraturan angka, serta para pemain tidak lagi berdiri membentuk lingkaran tetapi dimainkan di lapangan ganda badminton.
 Dan pada masa sekarang bola yang digunakan tidak lagi yang terbuat dari rotan tetapi yang terbuat dari fiber. Kejuaraan paling bergengsi dalam cabang ini adalah King's Cup World Championships, yang diadakan di Bangkok, Thailand. (23rd King's Cup SepakTakraw World Championship 2008: August 25-30th).


2. Identifikasi Masalah
Dalam makalah ini penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
1. Perkembangan Sepak Takraw
2. Teknik Dasar
3. Permainan
4. Peraturan

3. Batasan Masalah 
Agar masalah pembahasan tidak terlalu luas dan lebih terfokus pada masalah dan tujuan dalam hal ini pembuatan makalah ini, maka dengan ini penyusun membatasi masalah hanya pada ruang lingkup Sepak takraw
BAB II
ISI

A. Perkembangan Sepak Takraw di Indonesia
Menurut sejarah perkembangannya, Sepak Takraw berasal dari olahraga tradisional Indonesia, yaitu : Sepak Raga. Daerah – daerah di Indonesia yang semula mengembangkan permainan ini adalah : Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Sulawesi Selatan. Semula permainan sepak raga dimainkan oleh sekelompok bangsawan di daerah – daerah tersebut, kemudian berkembang menjadi permainan rakyat. Sepak raga dimainkan oleh enam sampai Sembilan orang secsara melingkar di suatau tempat terbuka, sebagai hiburan dan pengisi waktu luang dikala orang menunggu waktu senja.

B. Perkembangan Sepak Takraw Internasional (Dunia)
Pada tahun 1965 Sepak Takraw merupakan satu cabang olahraga yang dipertandingkan Pesta Olahraga South Asia Peninsulars Games ( SEAP GAMES )
yang diselenggarakan setiap 2 tahun sekali yang diikuti oleh Laos, Thailand, Singapura dan Malaysia. Pada tahun 1977 jumlah Negara yang mengikuti SEAP Games diperluas dengan Negara Asia lainnya, yaitu, Indonesia, Brunei dan Philifina; dan nama SEAP Games diubah menjadi South Asian Games ( SEA GAMES).
Pada tingkat internasional Sepak Takraw dipertandingkan pada kejuaraan : SEA Games, ASIAN Games, World Sepak Takraw Championship, World Woman Sepak Takraw Championship, World Youth Sepak Takraw Championship, King`s Cup Thailand, Merdeka Games, Arafura Games, Anniversary Cup dan POM asia tenggara. 

C. Teknik Dasar
a. Sepak Sila 
1.     Berdiri pada kedua kaki menghadap kea rah datangnya bola.
2.     Berdiri pada satu kaki,pada kaki kiri atau kanan.
3.     Bila berdiri pada kaki kiri,maka kaki kanan di tarik ke atas dan telapak kakinya menghadap lutut kaki kiri kemudian di turunkan setinggi maya kaki,kaki kiri di tarik lagi ke atas sampai setinggi lutut berulang-ulang.
4.     Pemain berdiri pada 2 kaki, kaki kiri di depan kaki kanan, berat badan bertumpu pada kaki kiri, menghadap pelambung bola.
Teknik Dasar Sepak Sila :
1.     Pemain berdiri pada kaki kiri dan kaki kanan,memantul-mantulkan bola dengan kaki kanan. Bola menyentuh bagian bawah mata kaki kanan. Pandangan di fokuskan kepada bola.
2.     Pantulan bola di pertinggi dengan cara sepakan di perkuat.
3.     Bila gerak kaki kiri yang di gunakan untuk menpakan tubuh tetap berdiri relative diam di tempat maka ini menunjukan bahwa anda sudah mahir melakukan sepak sila.
4.     Sebaiknya bila kaki kiri itu bergeser ke kiri ke kanan dan ke belakang sehngga bergerak dalam lingkaran yang gairs tengahnya lebih dari 1m,ini menunjukkan bahwa sepak sila anda belum stabil atau mantap.
5.  Bola lambung di ikuti dengan pandangan mata, sehingga pemain mengetahui arah bola dan mem-prediksi kecepatan bola dan tempat jatuhnya bola.
6.    Kedatangan bola di sambut oleh kaki dengan posisi kaki sepak sila.bola menyentuh kaki di bawah mata kaki,kaki kanan.bola di arahkan kembali kepada pelambung.
 


Fungsi Sepak Sila:
1.     Sebagai sepakan sajian awal (servis) atau sepak mula.
2.     Untuk menerima smes dan langsung di lambungkan dan di arhkan kepada apit kiri atau apit kanan.
3.     Untuk menyuguhkan umpan kepada smesser.

b. Sepak Kuda
Sikap dasar dan gerakan sepak sila:
1.     Pemain berdiri pada kedua kaki menghadap datangnya bola.
2.     Kedatangan bola di sambut oleh ayunan kaki kanan dan bola memantul setelah menyentuh arah punggung kaki kanan tersebut.Pandangan mata di fokuskan pada bola.
3.     Gerakan tersebut di lakukan dengan konsentrasi pikiran di tujukkan kepada kawan regunya atau kea rah daerah lawan melalui atas net (jaring).
4.     Fungsi sepak kuda adalah sebagai sepakan smes yaitu dengan cara melakukan gulingan badan (seperti salto)dan sentakkan kaki pada waktu melakukan sepakkan.
 

c. Heading ( Sundulan Kepala )
Sikap dasar dan pelaksanaan heading :
1.     Berdiri pada kedua kaki menghadap kedatangan bola.
2.     Heading bisa di lakukan dengan dahi samping kanan/kiri kepala,dan belakang kepala.
3.     Bola datang setinggi kepala, maka kepala menyambutnya dengan suatu gerakan kaki atau dan kepala guna membantu tenaga pantulan atau arah yang di perlukan.
4.     Bola berkecepatan tinggi cukup di sambut dengan kepala dan mengarahkannya.
5.     Benturan bola pada kepala cukup keras,sehingga si pemain harus memperhitungkan akan ‘risiko’ yang akan di rasakannya.
6.     Fungsi heading ini sebagai alat pembendung (blocking) atau smes juga di gunakan sebagai umpan.
 
d. Sepak Cungkil
Sepak cungkil adalah menyepak bola dengan menggunakan kaki (jari kaki). Digunakan untuk mengambil bola yang jauh, rendah dan bola-bola yang liar pantulan dari bloking.


e. Menapak
Menapak adalah menyepak bola dengan menggunakan telapak kaki. Digunakan untuk : smash ke pihak lawan, menahan atau membloking smash dari pihak lawan dan menyelamatkan bola dekat net (jaring).

f. Sepak Simpuh atau Sepak Badek
Sepak badek adalah menyepak bola dengan kaki bagian luar atau samping luar. Digunakan untuk menyelamatkan bola dari pihak lawan dan mengontrol bola dalam usaha penyelamatan.
g. Mendada
Mendada adalah memainkan bola dengan dada, digunakan untuk mengontrol bola untuk dapat dimainkan selanjutnya.
h. Memaha
Memaha adalah memainkan bola dengan paha dalam usaha mengontrol bola, digunakan untuk menahan, menerima dan menyelamatkan bola dari serangan lawan.

i. Membahu
Membahu adalah memainkan bola dengan bahu dalam usaha mempertahankan dari serangan pihak lawan yang mendadak, dimana pihak pertahanan dalam keadaan terdesak dan dalam posisi yang kurang baik.
j. Smash
teknik smash sepak takraw ada 2 jenis, yaitu:
Ø Roll Spike adalah trik / teknik smash yang berasal dari olahraga Sepak Takraw Untuk mencapai prestasi ini dan tetap tidak terluka , hanya profesional terlatih atau trainee diawasi harus mencobanya . Jika Anda ingin belajar dengan aman silahkan hubungi kami untuk menemukan sesi Takraw terdekat . Hanya kelas atas Takraw atlet harus berusaha manuver spektakuler ini .
Ø Smash kedeng
Fungsi smes kedeng adalah sebagai alat serangan untuk bola di daerah lawan.
k. Sepak mula (Servis
Sepak Mula (Servis) adalah sepakan yang dilakukan oleh tekong kearah lapangan lawan sebagai cara memulai permainan. suatu gerak kerja yang penting dalam permainan sepak takraw, karena point dapat dibuat oleh regu yang melakukan servis. Tujuan suatu servis hendaklah dipusatkan kepada pengacuan permainan atau pertahanan lawan sehingga kita dapat mengatur smash yang mematikan dan sulit menerima bola oleh lawan.
 

l. Blocking
Fungsi blocking adalah sebagai alat pertahanan untuk menggagalkan serangan lawan
D. Bentuk permainan
Dalam Permainan sepaktakraw, dimainkan oleh dua regu yang berhadapan dan dipisahkan oleh jaring (net) pada bagian tengah lapangan yang berbentuk persegi empat panjang dan rata seperti dalam permainan badminton. Tangan adalah bagian tubuh yang tidak boleh tersentuh bola, dan bagian tubuh yang terutama digunakan untuk menyentuh bola adalah kaki dan kepala.
Tujuan dari setiap regu adalah mengembalikan bola sedemikian rupa sehingga dapat jatuh di lapangan lawan atau menyebabkan lawan membuat pelanggaran. Tekong yang melakukan sepakan permulaan (service) dan mengawal bahagian belakang gelanggang. Apit Kiri dan Apit Kanan mengawal bahagian depan gelanggang dan memikul tugas utama mematikan bola di gelanggang lawan. Tiap regu akan bertukar tempat setiap berakhir set. Bentuk permainan      Sepak takraw tidak jauh berbeda dengan permainan bola volley, dengan perbedaan :
Ø Pemain tidak boleh menyentuh bola dengan tangan
Ø Pemain atau tim hanya boleh menyentuh bola tiga kali berturut – turut
Ø  Posisi pemain bertahan, tidak diputar 
E. PEMAIN
Ø Dimainkan oleh dua regu yang masing-masing pihak terdiri dari 3 (tiga) orang
Ø  Satu orang dari tiga pemain ini berdiri di belakang yang dinamakan "TEKONG";
Ø  Dua orang pemain depan, dikiri dinamakan Apit Kiri yang dikanan Apit Kanan;
Ø Istirahat bisa diberikan selama 5 menit sebelum games (set) terakhir dimulai

F. Lapangan
Ø Panjang Lapangan: 13,42 meter.
Ø Lebar Lapangan : 6,10 meter.
Ø Garis Batas: adalah garis (lines) yang lebarnya+ 5 cm.
Ø  Lingkaran Tengah: Ditengah sebuah lapangan ada lingkaran yaitu tempat melakukan sepakan permulaan (service). dengan garis tengah lingkaran 61 cm.
Ø Garis seperempat lingkaran: Pada penjuru tengah kedua lapangan terdapat garis seperempat lingkaran tempat melambungkan bola kepada pemain yang melakukan sepakan permulaan (service) dengan jari-jari 90 cm.
Tiang: Dua buah tiang sebagai tempat pengikat jaring, didirikan pada sebelah luar kedua garis samping kiri dan kanan dengan jarak 30,5 cm dari garis samping. 
Ø  Tinggi tiang 1,55 meter untuk laki-laki dan 1.45 meter untuk perempuan.
Jaring (net):
Ø Jaring dibuat dari bahan benang kasar, tali, atau dari nylon dengan ukuran lubang-lubangnya 4-5 cm. Lebar jaring 72 cm dan panjangnya tidak lebih dari 6,71 m. Pada pinggir atas, bawah dan samping dibuat pita selebar + 5 cm yang diperkuat dengan tali yang diikatkan pada kedua ring. Tinggi jarring 1,55 dari tanah atau lantai.
Ø BolaTakraw
Terbuat dari plastik dimana awalnya adalah terbuat dari rotan, dengan ukuran :
 Lingkaran 42-44 cm untuk putra dan 43-45 cm untuk putri.
Berat adalah 170-180 gr untuk putra dan 150-160 untuk putri.
                                                                      
G. Angka ( point )
Angka kemenangan untuk satu set adalah 21 point. Jika kedua regu mendapat 20 angka sama, wasit meneruskan pertandingan setelah berunding dengan regu yang menerima service untuk ditambah 5 angka. Jika kedua regu sama-sama memenangi satu game maka diteruskan dengan game terakhir (rubber set). Pemenang games (set) ke-3 adalah pemenang pertandingan itu. Angka kemenangan untuk set ke-3 adalah 15 point.

H. Permulaan Permainan 
Sebelum permainan dimulai, wasit melakukan undian (Toss) dengan mempergunakan uang logam (toss of coin) untuk memilih bola atau tempat.
Permainan dipimpin oleh seorang wasit dan seorang pembantu wasit (wasit II) dengan dibantu oleh 6 orang penjaga garis (lines man) yang duduk di 4 penjuru lapangan. Regu yang memilih bola yang pertama memulai permainan (set) pertama, selanjutnya pemenang game (set) pertama memulai permainan set kedua.


I. Sepakan Permulaan
Ø Tekong (Server) itu hendaklah sebelah kakinya berada dalam  lingkaran.



Ø Apit Pelambung bola haruslah berdiri dalam lingkaran (dibagian tengah lapangan).



Ø Apit yang seorang lagi haruslah berada di dalam lingkaran penjuru lainnya.
Ø Regu yang menerima service boleh berdiri di mana saja di dalam lapangannya.
Ø Service dianggap sah walaupun bola menyentuh jaring.

J. Kesalahan atau Pelanggaran
      1. Bagi regu yang melakukan servis:
Ø Apit sebagai pelambung masih memainkan bola, (melempar bola kepada teman sendiri, memantulkan, melempar dan menangkap lagi) setelah wasit menyebut posisi angka/skor.
Ø  Apit mengangkat kaki, menginjak garis, menyentuh atau melewati bawah net ketika melakukan lambung bola.
Ø   Tekong saat melakukan sepak mula  bersamaan sambil melompat.
Ø Tekong tidak menyepak bola yang dilambungkan kepadanya.
2. Kesalahan atau pelanggaran bagi regu yang menerima servis ialah berusaha mengalihkan perhatian lawan atau mengganggu pihak lawan yang sedang berkonsentrasi.
3. Kesalahan atau Pelanggaran pada kedua pihak:
Ø Ada pemain mengambil bola di lapangan lawan.
Ø Mempermainkan bola lebih dari tiga kali.
Ø   Bola mengenai tangan.
Ø Menahan/menjepit bola diantara lengan dan badan dua, dan diantara kaki dan badan.

K. Time Out
            Setiap angka 11 maka kedua regu diperkenankan untuk melakukan time out selama satu menit, dan yang diijinkan hanya lima orang saja di garis belakang.

L. Peraturan Pertandingan Sepak Takraw
            Peraturan pertandingan adalah memuat tentang pelaksanaan pertandingan sepak takraw oleh panitia pertandingan. Peraturan – peraturan pertandingan tersebut ialah sebagai berikut:
Ø Waktu dan Tempat
Ø Nomor yang dipertandingkan
Ø Peserta
Ø Sistem Pertandingan
Ø Pemeriksaan Medis
Ø Perlengkapan
Ø Wasit
Ø Urutan Pemenang
Ø Lain – lain
Ø Peraturan Pertandingan
Ø Pendaftaran
Ø Penggantian Pemain
Ø Hukuman
Ø Susunan Komisi Tata Tertib
Ø Tugas – tugas Komisi Tata Tertib
Ø Wewenang Komisi Tata Tertib
Ø Protes
Ø Technical Meeting
Ø Ketentuan sebelum, selama, dan sesudah pertandingan
Ø  Acara Pertandingan
Ø Acara pertandingan tim
Ø Acara pertandingan regu






BAB III
PENUTUP
Sepak Takraw adalah kata Malaysia untuk menendang. Takraw adalah kata Thai untuk bola tenunan tangan awalnya digunakan dalam permainanJadi permainan adalah menendang bola dasarnya. " Regu adalah Malaysia untuk "tim" empat orang, tiga starter dan satu pemain pengganti. 
Olah raga ini menjadi Takraw resmi dikenal sebagai . Takraw adalah kata Malaysia untuk kick dan Takraw adalah kata Thai untuk bola tenunan, karena itu Takraw  secara harfiah berarti untuk menendang bola. Pemilihan nama ini untuk olahraga pada dasarnya merupakan kompromi antara Malaysia dan Thailand,dua negara raksasa olahraga.